<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-25114427</id><updated>2011-04-22T02:48:33.765+07:00</updated><title type='text'>The Journey Has Begin</title><subtitle type='html'>Ruang berbagi...ruang ekspresi...dan ruang untuk mengendapkan diri. Sambil menghela nafas, menata laju. 
Lalu, tibalah saat meneriakkan rasa yang lama beku...let's rock our world!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://journeyhasbegin.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25114427/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journeyhasbegin.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>TAUFIK  ANDRIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09308518494811761621</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25114427.post-116240770863583547</id><published>2006-11-02T01:54:00.000+07:00</published><updated>2006-11-02T02:01:48.706+07:00</updated><title type='text'>Jumud</title><content type='html'>Jumud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kata tak lagi menarik&lt;br /&gt;ketika ... &lt;br /&gt;huruf jadi beku&lt;br /&gt;jari jadi kaku&lt;br /&gt;mata jadi nanar&lt;br /&gt;otak jadi pendar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25114427-116240770863583547?l=journeyhasbegin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journeyhasbegin.blogspot.com/feeds/116240770863583547/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25114427&amp;postID=116240770863583547' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25114427/posts/default/116240770863583547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25114427/posts/default/116240770863583547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journeyhasbegin.blogspot.com/2006/11/jumud.html' title='Jumud'/><author><name>TAUFIK  ANDRIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09308518494811761621</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25114427.post-116240714610149490</id><published>2006-11-02T01:43:00.000+07:00</published><updated>2006-11-02T01:52:26.726+07:00</updated><title type='text'>Air Mata Surga</title><content type='html'>Film&lt;br /&gt;Air Mata Surga&lt;br /&gt;Gerakan film independen Indonesia memadukan seni, teknik, dan mimpi&lt;br /&gt;Oleh Taufik Andrie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERTENGAHAN Oktober lalu ada sebuah diskusi di Hotel Indonesia –hotel&lt;br /&gt;bersejarah yang dibangun Presiden Soekarno dari hasil pampasan perang&lt;br /&gt;dari Jepang— tentang film independen yang diwarnai dengan semangat&lt;br /&gt;ingin punya film sendiri buatan Indonesia. Ada sekitar 30 anak muda&lt;br /&gt;dari berbagai kine klub seluruh Indonesia, datang mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi bertema "Bagaimana Distribusi dan Eksibishi Film Independen"&lt;br /&gt;digelar oleh Jaringan Kerja Forum Film Indonesia, biasa disingkat&lt;br /&gt;Forum Film –organisasi payung berbagai kine klub, dari Lampung,&lt;br /&gt;Jakarta, Yogyakarta, Malang, Bali hingga Makassar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbincangan berlangsung meriah. Hadir Mira Lesmana, sutradara-cum-&lt;br /&gt;produser film Kuldesak (1998), Petualangan Sherina (2000) dan Ada Apa&lt;br /&gt;Dengan Cinta (2002), sebagai pembicara. Berapi-api Mira bercerita&lt;br /&gt;tentang perlunya pengetahuan `bisnis' bagi indie filmmaker, baik&lt;br /&gt;dalam segi promosi, pemasaran, hingga strategi penayangan film.&lt;br /&gt;Sebagian pengalaman saat ia mengedarkan Kuldesak, ia ceritakan;&lt;br /&gt;bagaimana merayu manajemen jaringan bioskop 21, bagaimana memutar&lt;br /&gt;film di kampus-kampus, yang tiket masuknya cuma dibayar saweran&lt;br /&gt;sambil mengedarkan topi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Keluhan para filmmaker selama ini `kan jelas, bikin film tapi tak&lt;br /&gt;tahu harus diputar dimana, caranya seperti apa, perlu promosi atau&lt;br /&gt;nggak dan seterusnya. Di samping itu, kebanyakan dari mereka tak&lt;br /&gt;paham betul peta perfilman Indonesia," kata Mira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragam tanggapan bermunculan. Ada yang bertanya, ada yang cerita&lt;br /&gt;kegagalan pemutaran film indie mereka, ada pula yang menggugat&lt;br /&gt;konsepsi Mira dalam memasarkan film. Diskusi pun usai dengan&lt;br /&gt;menyisakan tanda tanya, "Bagaimana merumuskan strategi distribusi&lt;br /&gt;film independen dengan baik dan merata bagi pecinta film yang&lt;br /&gt;tersebar di berbagai daerah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan seperti ini tentu takkan mudah kita temukan empat atau&lt;br /&gt;lima tahun lalu. Kini, jangankan diskusi model begini, puluhan film&lt;br /&gt;indie dapat kita saksikan melalui pelbagai festival. Salah satu arena&lt;br /&gt;pemutaran yang paling hangat, Festival Film Video Independen&lt;br /&gt;Indonesia (FFVII) ke-IV pada 17-20 Oktober lalu di Hotel Indonesia&lt;br /&gt;yang digelar Komunitas Film Independen (Konfiden), sebuah yayasan&lt;br /&gt;film di Jakarta yang berdiri pada 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FFVII kali ini bertema "Kualitas Dalam Berkarya" dan melibatkan 78&lt;br /&gt;film Indonesia dan 39 karya undangan dari 10 negara. FFVII pertama&lt;br /&gt;yang digelar tahun 1999 memutar tak kurang dari 72 karya peserta.&lt;br /&gt;FFVII kedua tahun 2000 menggelar 87 film peserta. Sedang tahun lalu,&lt;br /&gt;dalam festival ketiga, FFVII menghadirkan 62 film karya peserta dan&lt;br /&gt;32 film undangan dari tujuh negara. Karya undangan sebagian besar&lt;br /&gt;didapat dari Oberhausen International Short Film Festival di Jerman&lt;br /&gt;dan Tampere International Short Film Festival di Finlandia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak festival itu luar biasa. Kine klub bermunculan. Pemutaran film&lt;br /&gt;secara reguler bergulir di mana-mana. Dari kampus ke kampus. Dari&lt;br /&gt;kota ke kota. Uniknya, kine klub tak hanya jadi komunitas kampus. Tak&lt;br /&gt;jarang anak sekolah menengah atas (SMA), bahkan sekolah menengah&lt;br /&gt;pertama (SMP), memiliki kelompok sejenis. Bagi mereka, bikin film&lt;br /&gt;jadi semacam kegemaran baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DULU Orde Baru represif memasung kreativitas anak muda. Bikin film&lt;br /&gt;jadi pekerjaan mustahil bagi anak muda. Negara menetapkan pelbagai&lt;br /&gt;syarat untuk memproduksi film. Mulai dari izin Departemen Penerangan,&lt;br /&gt;aktor maupun aktris film harus ikut anggota Persatuan Artis Film&lt;br /&gt;Indonesia (Parfi), awak film harus jadi anggota organisasi Karyawan&lt;br /&gt;Film dan Televisi (KFT), pembuat film harus ikut Persatuan Perusahaan&lt;br /&gt;Film Indonesia (PPFI) dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Repotnya, untuk jadi sutradara film harus pernah jadi asisten&lt;br /&gt;sutradara minimal empat kali. Belum lagi harus berurusan dengan&lt;br /&gt;gunting sensor dari Lembaga Sensor Film (dulu namanya Badan Sensor&lt;br /&gt;Film), dan membayar pajak tontonan bioskop ke Badan Pertimbangan&lt;br /&gt;Perfilman Nasional (BP2N).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lucu lagi, sempat muncul aturan pada 1980-an bahwa bikin film&lt;br /&gt;harus dapat izin dari Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban, yang&lt;br /&gt;waktu itu dipimpin Laksamana Soedomo –salah satu tukang pukulnya&lt;br /&gt;Presiden Soeharto. Sedikitnya ada 38 lembar formulir yang harus diisi&lt;br /&gt;untuk proses izin pembuatan dan penayangan film. Itulah kenapa hanya&lt;br /&gt;orang-orang tertentu yang mampu bikin film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini berlangsung selama lebih dari 30 tahun. Terlebih setelah&lt;br /&gt;Undang-undang Nomor 8 tahun 1992 tentang Perfilman Indonesia&lt;br /&gt;diberlakukan. Menurut Hinca Pandjaitan dan Dyah Aryani dari Indonesia&lt;br /&gt;Media Law and Policy Centre dalam buku Melepas Pasung Kebijakan&lt;br /&gt;Perfilman Indonesia (2001), aturan itu membelenggu kreativitas&lt;br /&gt;berkarya sekaligus berandil besar dalam ambruknya industri film&lt;br /&gt;nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu baru satu aspek. Di sisi lain, Gotot Prakoso, dosen matakuliah&lt;br /&gt;film Institut Kesenian Jakarta, melihat dominannya peran negara dalam&lt;br /&gt;menafsir fungsi film. Gotot mengatakan, "Kini negara memang tak lagi&lt;br /&gt;mengambil keputusan terhadap film. Dulu, film nasional masih dikuasai&lt;br /&gt;pemerintah, dengan dalih film semata-mata bukan sebagai barang&lt;br /&gt;dagangan, negara menjadikan film sebagai media propaganda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film Pengkhianatan G30S PKI (1978) karya Arifin C. Noer, yang&lt;br /&gt;berkisah tentang apa yang dikenal sebagai upaya kudeta Partai Komunis&lt;br /&gt;Indonesia pada 30 September 1965, agaknya bisa jadi contoh.&lt;br /&gt;Propaganda visual yang tak lekang. Selama 20 tahun sejak ditayangkan&lt;br /&gt;TVRI tahun 1978, film ini tiap tahun ditayangkan TVRI sehingga&lt;br /&gt;merasuki sanubari terdalam kebanyakan warganegara Indonesia, terutama&lt;br /&gt;anak-anak yang lahir sejak awal 1970-an. Imbasnya, PKI jadi setan&lt;br /&gt;yang menakutkan. Film jadi instrumen untuk mencitrakan "musuh&lt;br /&gt;masyarakat" dengan apik, namun sarat propaganda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Victor C. Mambor, peneliti seni pertunjukan pada Yayasan Kelola Solo,&lt;br /&gt;mengatakan, "Akhir dekade 1980-an film Indonesia hanya berisikan tema-&lt;br /&gt;tema komedi, seks, seks horor, dan musik (dangdut) dengan tujuan&lt;br /&gt;untuk mencapai keuntungan saja. Dengan mutu yang rendah, dan asal-&lt;br /&gt;asalan dari segi cerita dan sinematografi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking buruknya kualitas film, Festival Film Indonesia (FFI) yang&lt;br /&gt;diadakan sejak 1973 harus dihentikan penyelenggaraannya pada 1994.&lt;br /&gt;Saat itu juga impor film Amerika, Mandarin, dan India tengah marak.&lt;br /&gt;Mambor mencatat, Indonesia menerima 1000 sampai 1200 film asing per&lt;br /&gt;tahun melalui bioskop, televisi, video compact disk dan download&lt;br /&gt;melalui internet. Faktir utamanya karena merosotnya produksi film&lt;br /&gt;nasional. Produksi film nasional pada 1970-an mencapai 604 judul film&lt;br /&gt;dengan rerata produksi 60 film per tahun. Jumlah ini mengalami&lt;br /&gt;peningkatan pada 1980-an menjadi 721 judul film dengan rerata 70 film&lt;br /&gt;per tahun. Bandingkan dengan dekade 1990-an. BP2N mencatat tak sampai&lt;br /&gt;separuh dari jumlah produksi tahun 1980-an, yakni berkisar 200 sampai&lt;br /&gt;300 film dalam 10 tahun terakhir. Sangat jauh jika dibanding industri&lt;br /&gt;Bollywood di India yang mampu menembus angka 1000-1500 film dalam 10&lt;br /&gt;tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama rentang itu pula tema sinema Indonesia, menurut Victor C.&lt;br /&gt;Mambor, tak pernah bergeser dari seks, kekerasan dan sadisme mistis.&lt;br /&gt;Cermin kegagapan insan film atas mandeknya kreativitas akibat&lt;br /&gt;ketatnya aturan main pemerintah. Pula, bisa jadi cermin atas selera&lt;br /&gt;masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mambor punya permisalan menarik. Film Akibat Pergaulan Bebas (1974)&lt;br /&gt;meraup 311.286 penonton, 30 persen lebih banyak dibanding film Badai&lt;br /&gt;Pasti Berlalu (1974) garapan sutradara Slamet Raharjo Djarot yang&lt;br /&gt;memenangi piala Antemas untuk kategori film laris yang bermutu.&lt;br /&gt;Ironis bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, Katinka van Heeren, peneliti gerakan film Indonesia dari&lt;br /&gt;Universitas Leiden Belanda, melihat ada tiga faktor yang melatari&lt;br /&gt;mandeknya indutri film Indonesia, "Peraturan yang membatasi yang&lt;br /&gt;cenderung jadi lebih mematikan. Kedua, monopoli bioskop oleh kelompok&lt;br /&gt;bisnis Subentra Group dengan jaringan 21 Cineplex milik Sudwikatmono,&lt;br /&gt;relasi Soeharto, yang merugikan film lokal dengan hanya memutar film&lt;br /&gt;Hollywood yang eksklusif. Ketiga, sinetron atau opera sabun yang&lt;br /&gt;ditayangkan TV swasta sejak awal 1990-an yang terbukti lebih populer&lt;br /&gt;dibanding film."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WARNA baru film Indonesia justru muncul saat kelesuan produksi hampir&lt;br /&gt;mencapai titik nadir, dibawa seorang anak muda lulusan sekolah film&lt;br /&gt;Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tahun 1986. Ia Garin Nugroho, yang&lt;br /&gt;gelisah atas kondisi anomali film Indonesia. Berbekal pengetahuan&lt;br /&gt;film dan intuisi yang tajam, Garin mampu membaca kebutuhan apresiasi&lt;br /&gt;masyarakat akan film nasional dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garin datang membawa angin perubahan. Dengan pilihan tema yang realis&lt;br /&gt;dan kemampuan bertutur yang subtil, Garin mampu memukau penonton yang&lt;br /&gt;tengah dilanda dahaga apresiasi. Jika dihitung, dari awal dekade 1990-&lt;br /&gt;an hanya film-film Garin Nugroho yang dianggap mampu bertahan dengan&lt;br /&gt;idealisme dan pasar tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Debutnya dalam Cinta Dalam Sepotong Roti (1991), bikin banyak&lt;br /&gt;kalangan tercengang. Caranya bertutur tentang kehidupan rumah tangga,&lt;br /&gt;problem sosial hingga perbincangan tentang seks, terkesan elegan dan&lt;br /&gt;tak biasa. Film ini menyabet piala citra dalam FFI tahun 1991 sebagai&lt;br /&gt;film terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berturut-turut Garin menyutradarai Surat Untuk Bidadari (1994), Bulan&lt;br /&gt;Tertusuk Ilalang (1995), Daun Di Atas Bantal (1998), Puisi Tak&lt;br /&gt;Terkuburkan (1999), Rembulan Di Ujung Dahan (2002), Aku Ingin&lt;br /&gt;Menciummu Sekali Saja (2002) hingga puluhan serial Anak Seribu Pulau&lt;br /&gt;(1995) dan Pustaka Anak Nusantara (2001), yang banyak mengupas isu&lt;br /&gt;multikulturalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam peluncuran film terbarunya, Aku Ingin Menciummu Sekali Saja&lt;br /&gt;yang berlatar budaya Papua, Garin kembali menasbihkan karakter film-&lt;br /&gt;filmnya. Bingkai filmnya terutama ditujukan untuk selalu berdialog&lt;br /&gt;dengan isu sosial politik mutakhir. Tak hanya diam. Kadang menggugat,&lt;br /&gt;kadang memperkirakan masa depan, kadang menafsirkan realitas.&lt;br /&gt;Selebihnya, Garin mengambil posisi diametral dengan arus utama, dalam&lt;br /&gt;ide dasar, cara produksi, pemilihan lokasi dan penokohan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini Garin telah mengoleksi kurang lebih 23 penghargaan, yang&lt;br /&gt;ironisnya, sebagian besar didapat dari festival film internasional di&lt;br /&gt;luar negeri. Untuk memberi satu contoh, sebut saja Puisi Tak&lt;br /&gt;Terkuburkan, film terbaik dalam Festival Film Singapura ke 14, tahun&lt;br /&gt;1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GARIN boleh saja jadi ikon, tapi pelatuk yang meledakkan genre sinema&lt;br /&gt;independen tetap dipegang Kuldesak (1998) bikinan sekelompok anak&lt;br /&gt;muda yang tergabung dalam komunitas Days For Night Films. Mereka,&lt;br /&gt;Mira Lesmana, Riri Riza, Nan Triveni Achnas dan Rizal Mantovani.&lt;br /&gt;Kecuali Rizal, anak-anak muda ini lulusan sekolah film IKJ, yang&lt;br /&gt;tergila-gila untuk bisa bikin film sendiri. Sebelumnya mereka hanya&lt;br /&gt;bikin iklan, film-film pendek untuk keperluan studi dan layanan&lt;br /&gt;masyarakat, sesekali bikin video klip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Keinginan bikin film sudah tinggi, sutradara-sutradara tua sedang&lt;br /&gt;tidak produksi, satu-satunya yang bergerak cuma Garin Nugroho. Kita&lt;br /&gt;cuma bermodal 50 juta waktu itu, peralatan kita pinjam, tempat kita&lt;br /&gt;pinjam, kita belum mikir apa akan ada yang nonton nanti," kata Mira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya Kuldesak dibikin tahun 1996. Peraturan pemerintah masih&lt;br /&gt;sangat ketat. Paling repot, diantara segunung persyaratan tersebut&lt;br /&gt;tak satupun dari mereka yang pernah jadi asisten sutradara sampai&lt;br /&gt;empat kali. Awalnya Mira sempat frustasi. Tapi bagaimanapun rencana&lt;br /&gt;harus jalan terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan modal nekat, proyek ini dikerjakan. Syuting dilakukan diam-&lt;br /&gt;diam. Hampir semua awak film tak dibayar; dari pemain, sutradara,&lt;br /&gt;kameraman, hingga pembuat lagu soundtrack, Ahmad Dhani dan Andra&lt;br /&gt;Ramadhan dari kelompok musik Dewa. Upahnya cuma ucapan terima kasih&lt;br /&gt;dan jalinan pertemanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pokoknya repot deh. Masak bikin film harus pakai izin dari&lt;br /&gt;Kompkamtib segala, gila `kan. Karena persoalan-persoalan itulah&lt;br /&gt;syuting Kuldesak lama, mana kita tak punya izin, belum ada yang punya&lt;br /&gt;lisensi sutradara. Pokoknya Kuldesak butuh 2,5 tahun, sampai 1998&lt;br /&gt;baru bisa tayang di bioskop," kata Mira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melobi Sudwikatmono berkali-kali, Subentra Group yang&lt;br /&gt;mengangkangi jaringan bioskop 21 milik Sudwikatmono, akhirnya&lt;br /&gt;menayangkan film ini. Secara bisnis, Kuldesak memang tak sukses, tapi&lt;br /&gt;sejarah tetap mencatat gebrakan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuldesak kemudian jadi ikon gerakan film independen Indonesia.&lt;br /&gt;Kuldesak murni generasi baru film Indonesia. Film khas kehidupan anak&lt;br /&gt;muda metropolitan, sarat konflik dan penyelesaian yang tak biasa, tak&lt;br /&gt;ada unsur menggurui, namun tetap meledak-ledak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pemicu, Kuldesak layak dibenarkan. Namun Gotot Prakoso, punya&lt;br /&gt;pandangan lain perihal kemunculan gerakan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Secara istilah memang film independen baru muncul setelah reformasi,&lt;br /&gt;trigger-nya mungkin lewat Kuldesak. Sebelumnya sudah ada, cuma&lt;br /&gt;namanya bukan independen, namanya masih film pendek atau film mini&lt;br /&gt;yang diilhami munculnya trend rok mini pada dekade 1980-an yang&lt;br /&gt;diganyang pemerintah. Orang-orang seperti Eros Djarot, Christine&lt;br /&gt;Hakim, Slamet Raharjo Djarot dan Garin Nugroho, pernah mengalami masa&lt;br /&gt;ini. Semangatnya sudah ada, hanya istilahnya saja yang berbeda,"&lt;br /&gt;katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan istilah berikut perkembangan generasi baru film Indonesia&lt;br /&gt;mendapat perhatian serius dari Katinka van Heeren, peneliti pada&lt;br /&gt;Indonesian Mediations Research Project dari Unversitas Leiden Belanda&lt;br /&gt;dalam papernya di International Institue for Asian Studies Newsletter&lt;br /&gt;edisi Agustus 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menulis, "Yang mendorong gerakan ini bukan hanya karena kebetulan&lt;br /&gt;belaka akibat iklim politik pada masa reformasi, tapi lebih penting&lt;br /&gt;lagi, juga berdasar pada ketersediaan media audio visual baru untuk&lt;br /&gt;merekam dan memutar film. Satu elemen dari gerakan film baru&lt;br /&gt;berangkat dari istilah independen atau film independen, yang telah&lt;br /&gt;jadi model dan semboyan bagi banyak anak muda Indonesia untuk membuat&lt;br /&gt;film mereka sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOAL istilah dan kriteria memang pelik. Beragam perdebatan saling-&lt;br /&gt;silang, berebut kebenaran dalam mendedah definisi dan karakteristik&lt;br /&gt;film independen. Sebelum itu, ada baiknya kita sedikit menengok&lt;br /&gt;sejarah film independen di kampung asalnya, Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat awalnya mula-mula karena kejenuhan John Cassavettes,&lt;br /&gt;filmmaker yang terpengaruh gerakan film di Perancis paruh 1950 hingga&lt;br /&gt;1960-an. Kebosanan Cassavettes atas tema-tema film Hollywood yang&lt;br /&gt;kerap mengedepankan populisme, patriotisme, drama romantik dan&lt;br /&gt;kekerasan diwujudkan dalam film pertamanya yang kontroversial,&lt;br /&gt;Shadows (1962).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok Cassavettes, oleh Greg Merritt dalam bukunya Celluloid&lt;br /&gt;Mavericks, A History Of American Independent Film (2000), digambarkan&lt;br /&gt;sangat inovatif. Merritt menyebut Cassavettes seorang inovator, yang&lt;br /&gt;menggunakan teknologi secara benar, tak menggunakan aktor&lt;br /&gt;profesional, dan sarat improvisasi. Kritikus film percaya Cassavette&lt;br /&gt;sedang memberontak pada Hollywood. Ia dianggap benar-benar&lt;br /&gt;menumbuhkan semangat independen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi pelopor indies film, Dennis Hopper, sutradara Easy Rider&lt;br /&gt;(1969), yang dibintangi antara lain Peter Fonda, yang berhasil meraup&lt;br /&gt;US$ 19 juta. Sejak itu, indies film, istilah film indie di Amerika,&lt;br /&gt;tak lagi dipandang sebelah mata. Mau tak mau, Hollywood akhirnya&lt;br /&gt;berpaling pada bakat-bakat, tema-tema dan cara pembuatan film yang&lt;br /&gt;tak lazim dalam sejarah industri Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara nama-nama besar di era 1980 hingga 1990-an seperti Steven&lt;br /&gt;Soderbergh (Sex, Lies and Videotape, 1989), Bob Goldthwait (Shakes&lt;br /&gt;The Clown, 1991) dan Peter Jackson (Bad Taste, 1987). Ada dua orang&lt;br /&gt;nama yang dianggap paling berpengaruh. Kritikus film menyebut&lt;br /&gt;mereka "Legendary Hero Of The `90's". Dua orang berbeda, namun satu&lt;br /&gt;karakter, yakni Quentin Tarantino dan Robert Rodriguez. Mereka&lt;br /&gt;berusia muda, bukan lulusan sekolah film, dan nekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarantino muda hanyalah seorang penjaga kios video. Pengetahuan dan&lt;br /&gt;karakter filmnya dapat dijejaki dari caranya menghafal 2000 judul&lt;br /&gt;film lengkap dengan adegan-adegann menariknya. Kelak, kemampuannya&lt;br /&gt;menulis skenario ditentukan dari sini. Debutnya lewat Reservoir Dogs&lt;br /&gt;(1992) membelalakkan mata para Hollywooders, yang tak menyangka bakal&lt;br /&gt;kedatangan film drama genre baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reservoir Dogs yang kaku, dingin, dan tersendat-sendat dalam alur&lt;br /&gt;ternyata mampu membukukan penjualan sebesar US$ 2,8 juta dari modal&lt;br /&gt;awal yang cuma US$ 400 ribu. Tak hanya itu, film ini bahkan mampu&lt;br /&gt;menghasilkan penghargaan sebagai Best Director dalam Catalonian&lt;br /&gt;International Film Festival (1992). Selain itu juga memenangi Best&lt;br /&gt;Screenplay pada Stockholm Film Festival (1992) dan Newcomer Of The&lt;br /&gt;Year pada London Critics Circle (1992).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarantino hanya butuh dua tahun untuk bisa sejajar dengan sutradara&lt;br /&gt;papan atas Hollywood. Dengan Pulp Fiction (1994) yang mampu menembus&lt;br /&gt;angka US$ 108 juta, ia meraup 21 penghargaan, dari Best Director,&lt;br /&gt;Best Screenplay hingga Best Motion Picture pada 16 ajang yang berbeda&lt;br /&gt;di empat negara; Amerika, Inggris, Perancis, dan Swedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rodriguez tak berbeda dengan Tarantino. El Mariachi (1992) dibuatnya&lt;br /&gt;dalam usia 23 tahun. Dibuat hanya dalam 14 hari, dengan dana US$ 7&lt;br /&gt;ribu tanpa membayar seorang pemain pun. Film ini meraup US$ 1,6 juta,&lt;br /&gt;bukan angka yang wah di Hollywood, tapi dengan modal setipis itu&lt;br /&gt;deretan angka ini jadi fantastis. Kecemerlangan Rodriguez tampak pula&lt;br /&gt;pada bukunya, Rebel Without A Crew (1990). Buku ini mengilhami banyak&lt;br /&gt;sineas muda dalam membikin film berdana rendah tanpa campur tangan&lt;br /&gt;pemodal, tanpa campur pendapat produser maupun distributor. Genre&lt;br /&gt;baru dalam melawan cara kerja film Hollywood yang melulu berorientasi&lt;br /&gt;pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Rodriguez mempresentasikan El Mariachi pada suatu festival di&lt;br /&gt;tahun 1993, bertemulah ia dengan Tarantino. Duet keduanya&lt;br /&gt;menghasilkan From Dust Till Dawn (1996), film horor genre baru yang&lt;br /&gt;sarat serba-serbi kekerasan. Serta Four Rooms (1995) yang disutradari&lt;br /&gt;oleh empat orang sekaligus. Robert Rodriguez, Alison Anders,&lt;br /&gt;Alexandre Rockwell dan Quentin Tarantino. Berikut Desperado (1997)&lt;br /&gt;yang jadi cermin pembuatan ulang El Mariachi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, metamorfosa sempurna El Mariachi dan Four Rooms dilihat&lt;br /&gt;dari cara dan semangat berkarya serta kombinasi penyutradaraan ala&lt;br /&gt;empat orang terpatri kuat pada Kuldesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERBEDA dari Amerika, Indonesia punya latar tersendiri dalam gerakan&lt;br /&gt;film independen. Selain dana, tema, dan kemandirian pada aras&lt;br /&gt;produksi dan distribusi, gerakan film independen Indonesia juga&lt;br /&gt;diganjal oleh aturan main negara dalam perfilman. Ada pula dimensi&lt;br /&gt;ideologis, yang bermuara pada film sebagai gerakan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry `Dagoe' Suharyadi, sutradara film Pachinko and Everyone's Happy&lt;br /&gt;(1999), beberapa bulan lalu, dalam satu wawancara dengan saya&lt;br /&gt;mengatakan, "Sinema independen di Amerika awalnya merupakan&lt;br /&gt;perlawanan terhadap produksi dan jalur distribusi film major yang&lt;br /&gt;dikuasai oleh sedikit perusahaan, seperti misalnya Warner Bross,&lt;br /&gt;Columbia Pictures, Paramount Pictures dan 21 Century Fox."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sedang di sini `kan jelas-jelas nggak ada industri besar. Jadi&lt;br /&gt;independennya lebih ke perlawanan terhadap aturan-aturan yang selama&lt;br /&gt;ini membelenggu kreativitas, aturan yang punya kepentingan berbeda&lt;br /&gt;dari kepentingan pembuat film. Pemberontakan terhadap aturan yang&lt;br /&gt;menghambat proses kreatif inilah karakteristik dasar gerakan sinema&lt;br /&gt;independen," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aturan yang dimaksud Suharyadi tak lain adalah Undang-undang&lt;br /&gt;perfilman No 8 tahun 1992 dan peraturan turunannya. Dalam pasal 23&lt;br /&gt;dan 29 Peraturan Pemerintah No 6 tahun 1994 tentang Penyelenggaraan&lt;br /&gt;Usaha Perfilman hanya terdapat tiga kategori film; film komersial,&lt;br /&gt;film diplomatik dan film khusus. Padahal flm khusus dimaksud&lt;br /&gt;bermakna, "film yang dimasukkan ke Indonesia untuk tujuan khusus&lt;br /&gt;seperti film pendidikan, film instruksi, film untuk seminar atau&lt;br /&gt;festival yang tidak bersifat komersial." Artinya, secara yuridis film&lt;br /&gt;independen tak dikenal di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi jika menilik pasal 9 ayat 1 Undang-undang No 8 tahun 1992&lt;br /&gt;tentang Perfilman, yang berbunyi, "Usaha perfilman di Indonesia hanya&lt;br /&gt;dapat dilakukan oleh warga negara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia dalam bentuk badan usaha yang berstatus badan hukum&lt;br /&gt;Indonesia yang bergerak di bidang usaha perfilman. Sedang ayat 2&lt;br /&gt;berbunyi, "Badan usaha sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib&lt;br /&gt;memiliki izin usaha perfilman."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tentu tahu, kebanyakan film indie dibikin oleh anak-anak muda&lt;br /&gt;yang hanya bermodal handycam pinjaman. Dana seadanya, manajemen&lt;br /&gt;sekedarnya dan kadang cenderung asal-asalan. Sumber dana biasanya&lt;br /&gt;didapat dari patungan sesama mereka. Jelas sama sekali tak berbadan&lt;br /&gt;hukum, apalagi mengantongi izin usaha perfilman. Ketergantungan&lt;br /&gt;hampir tak ada, bahkan dalam urusan distribusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan Suharyadi, secara eksplisit, Victor C. Mambor&lt;br /&gt;mengatakan, "Film independen adalah film tanpa campur tangan pemilik&lt;br /&gt;modal, tak memperhitungkan aspek komersial. Kita biasa menyebutnya&lt;br /&gt;proyek idealis."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dana alias modal jelas jadi varibel utama. Membuat film memang tak&lt;br /&gt;murah. Sekadar gambaran, pita seluloid 35 mm yang 1 rollnya berharga&lt;br /&gt;Rp 4 juta cuma mampu merekam selama empat menit. Sedang kamera&lt;br /&gt;Betacam SP, kasetnya seharga Rp 110 ribu dengan kemampuan merekam&lt;br /&gt;hingga 30 menit. Digital Video atau Digital Beta lebih murah lagi&lt;br /&gt;dengan Rp 400 ribu bisa merekam gambar hingga 180 menit. Itu baru&lt;br /&gt;kaset atau pita seluloid. Belum biaya pra-produksi, produksi dan&lt;br /&gt;pascaproduksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari aspek pilihan instrumen, Satrya Wibawa, staf pengajar komunikasi&lt;br /&gt;Universitas Airlangga Surabaya, pegiat Independen Film Surabaya&lt;br /&gt;(INFIS), mengatakan, "Istilah ini mengerucut pada film-video yang tak&lt;br /&gt;diputar di bioskop. Sebagai wacana, film jenis ini memiliki kebebasan&lt;br /&gt;dalam berekspresi, dalam ide, mekanisme produksi maupun distribusi.&lt;br /&gt;Sedang secara teknis, film independen asosiatif dengan film pendek,&lt;br /&gt;sarat idealisme, nonkomersial, dan biasanya berupa film-video."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merunut alasan Satrya, kita bisa mereka-reka berapa rerata jumlah&lt;br /&gt;yang dibutuhkan dalam satu produksi film indie. Umumnya, mereka&lt;br /&gt;menggunakan digital video kamera atau Betacam yang harga kasetnya&lt;br /&gt;berkisar Rp 110 ribu hingga Rp 400 ribu. Biaya riset, syuting dan&lt;br /&gt;keseluruhan dari pra-produksi hingga paska-produksi, termasuk editing&lt;br /&gt;butuh Rp 2-3 juta, bisa lebih kecil dari itu. Satrya bahkan pernah&lt;br /&gt;bikin film pendek hanya dengan Rp 350 ribu. Rinciannya, 20 ribu untuk&lt;br /&gt;kaset 8 mm, editing Rp 200 ribu, dan Rp 100 ribu untuk biaya lain-&lt;br /&gt;lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi tema, film indie agaknya tengah menemukan bentuknya. Ismet&lt;br /&gt;Fanany dari Yayasan Pop Corner yang getol memberikan workshop pada&lt;br /&gt;anak-anak sekolah mengatakan, "Sangat luas ya, dalam satu workshop&lt;br /&gt;yang sempat kami berikan, temanya yang diangkat macam-macam. Ada&lt;br /&gt;kehidupan urban, horor, cinta-cintaan, kemiskinan dan cerita-cerita&lt;br /&gt;seputar kehidupan mereka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekayaan tema inilah yang jadi kebanggaan Aryo Danusiri dari Yayasan&lt;br /&gt;Sains Estetika dan Teknologi (SET). "Temanya berkembang sekali,&lt;br /&gt;banyak yang baru bahkan. Memang banyak juga yang masih melakukan&lt;br /&gt;penjelajahan, tapi variasi temanya gila-gilaan. Lihat saja Air Mata&lt;br /&gt;Surga, film pembuka FFVII kemarin, pencapaian teknis dan artistiknya&lt;br /&gt;sempurna. Pilihan temanya pas, lokal dan biasa kita temui sehari-&lt;br /&gt;hari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara ideologis, Tomy Taslim, administrator milis&lt;br /&gt;forumfilm@yahoogroups.com dari Forum Film, mengatakan, "Saya lebih&lt;br /&gt;suka menyebut gerakan film sekarang sebagai gerakan sinema budaya,&lt;br /&gt;gerakan untuk mensinemakan budaya dan membudayakan sinema."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Victor C. Mambor, dalam makalah "Satu Abad Gambar Idoep di Indoensia"&lt;br /&gt;punya definisi yang tak jauh beda. "Ada perubahan visi dari semula&lt;br /&gt;film sebagai industri budaya ke film sebagai gerakan budaya. Di&lt;br /&gt;negara-negara Eropa era 1980-an, kesadaran itu baru muncul, hampir&lt;br /&gt;sama seperti yang terjadi di sini sekarang. Kemunculan gerakan film&lt;br /&gt;independen Indonesia berangkat dari pengetahuan yang baik dalam hal&lt;br /&gt;sinematografi, dan paralel dengan kemudahan akses terhadap teknologi&lt;br /&gt;sinema," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara lebih subtil, Garin bahkan meminta gerakan film indie&lt;br /&gt;diparalelkan dengan gerakan politik kontemporer. Ia&lt;br /&gt;mengatakan, "Gerakan film itu sama dengan gerakan politik, semuanya&lt;br /&gt;harus dipersiapkan. Jangan ketika gerakan selesai terus momentumnya&lt;br /&gt;direbut orang lain. Sistemnya harus dipersiapkan. Kalau dalam politik&lt;br /&gt;kan belum, dalam reformasi Undang-undang politik, Undang-undang&lt;br /&gt;pemilu dan kepemimpinan politik belum dipersiapkan. Akhirnya kan&lt;br /&gt;direbut orang lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kawan saya, Dimas Jayasrana, sutradara dari komunitas Youth&lt;br /&gt;Power Purwokerto, punya jawaban bagus, "Meminjam istilah seorang&lt;br /&gt;kawan di Bandung, lupakan indie, mari bikin film". Pernyataan tegas&lt;br /&gt;untuk tak terjebak pada idiom kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBAGAI sebuah gerakan, film indie tentu punya banyak kendala. Dari&lt;br /&gt;minusnya sumber daya manusia, kurangnya dukungan negara lewat LSF dan&lt;br /&gt;BP2N terhadap gerakan ini. Serta sedikitnya dukungan infrastruktur&lt;br /&gt;dari industri pertelevisian dan bioskop di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara penting yang dianggap menghambat daya inovasi dan kreasi&lt;br /&gt;dalam sineas Indonesia yaitu sensor. Turunan pasal 33 dan 34 Undang-&lt;br /&gt;undang Perfilman No. 8 tahun 1992 ialah Peraturan Pemerintah No. 7&lt;br /&gt;tahun 1994 tentang Lembaga Sensor Film, lembaga yang bertugas menjaga&lt;br /&gt;nilai budaya bangsa dan melindungi masyarakat dari dampak negatif&lt;br /&gt;film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau film itu diputar untuk publik, apalagi menggunakan tiket, maka&lt;br /&gt;sensor harus diberlakukan. Itu ada aturannya. Kecuali film tersebut&lt;br /&gt;diputar di wilayah diplomatik atau di kedutaan yang mempunyai&lt;br /&gt;kekebalan diplomatik, kita akan menghormati hal itu," kata Tati&lt;br /&gt;Maliyati Wahyu Sihombing, ketua LSF. Tati Maliyati juga mengajar di&lt;br /&gt;jurusan teater Institut Kesenian Jakarta, pernah pula menyutradarai&lt;br /&gt;serial Losmen, tayangan drama terkenal TVRI pada paruh 1990-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sensor identik dengan menggunting film. Dalam pasal 17 disebutkan,&lt;br /&gt;sensor ialah menghilangkan sebagian gambar yang masuk dalam kategori&lt;br /&gt;penyensoran, yaitu gambar-gambar yang menyiratkan anti-Tuhan, anti-&lt;br /&gt;agama, pornografi, adegan persenggamaan, bertentangan dengan&lt;br /&gt;Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, adegan kekerasan, menyiratkan&lt;br /&gt;paham Marxisme dan Komunisme serta hal-hal yang mengganggu ketertiban&lt;br /&gt;umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sensor itu digunakan untuk melindungi masyarakat dari pengaruh buruk&lt;br /&gt;film. Kita ini `kan bangsa timur, hampir 90 persen penduduk Indonesia&lt;br /&gt;muslim, jadi harus dihargai. Dijaga nilai-nilainya. Jadi&lt;br /&gt;misalkan, `maaf' adegan senggama kok ditayangkan untuk publik, ya&lt;br /&gt;tidak baik," kata Tati Maliyati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudut padang orang pemerintah lain dengan pekerja film. Gotot Prakoso&lt;br /&gt;tak sepakat jika mekanisme sensor masih dipertahankan. Ia menyarankan&lt;br /&gt;untuk menyerahkan mekanisme apresiasi pada penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lembaga sensor memang masih ada di beberapa negara, tapi fungsinya&lt;br /&gt;hanya mengklasifikasikan usia penonton, tidak memotong film. Sedang&lt;br /&gt;fungsi sensor yang efektif adalah pada masyarakat. Biarkan masyarakat&lt;br /&gt;menilai. Insan film akan belajar dari dasar-dasar etika yang dialami&lt;br /&gt;dalam pengalaman empiris di masyarakat, " kata Gotot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah Aryani dari Indonesia Media Law and Policy Centre (IMLPC)&lt;br /&gt;mengatakan perlunya rekonstruksi fungsi lembaga sensor.&lt;br /&gt;Menurutnya, "kriteria sensor LSF itu nggak jelas. Misalnya tentang&lt;br /&gt;pornografi, tak ada batasan jelas. Kriteria penyensoran dalam pasal&lt;br /&gt;19 ayat (1), film yang secara tematis ditolak secara utuh adalah yang&lt;br /&gt;cerita dan penyajiannya mempertontonkan adegan seks lebih dari 50&lt;br /&gt;persen. Bagaimana menentukan ukuran 50 persen ini? Jadi kalau sebatas&lt;br /&gt;untuk keperluan festival itu tak perlu disensor," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Protes keras dilontarkan Satrya Wibawa dari INFIS, "Sebagai bagian&lt;br /&gt;dari sistem yang lebih besar, eksistensi organisasi pengatur (dalam&lt;br /&gt;film) ini jelas diperlukan. Tapi, pada prakteknya eksistensi badan-&lt;br /&gt;badan itu justru mematikan. Terutama LSF. Peraturan sensor yang tak&lt;br /&gt;jelas, apalagi mengatasnamakan agama dan budaya, justru&lt;br /&gt;disalahgunakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu cara lagi selain menggunting film, yakni teknik bluring atau&lt;br /&gt;pengaburan gambar. Namun Tati Maliyati jarang menggunakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setiap kali menggunakan ini (bluring) saya sering mendapat kritik.&lt;br /&gt;Karena hasilnya sering tidak baik, tidak tepat. Harus hati-hati&lt;br /&gt;melakukan bluring, sebab butuh keahlian khusus tapi kan hasilnya film&lt;br /&gt;akan kelihatan jelek. Kami sebenarnya nggak suka memotong-motong,&lt;br /&gt;kami tahu itu karya seni, tapi kami bertugas melindungi masyarakat.&lt;br /&gt;Kami keberatan jika harus dipojokkan terus menerus," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain LSF, lembaga yang jadi tumpuan pemberdayaan, pembinaan dan&lt;br /&gt;bertanggungjawab atas perkembangan film Indonesia adalah BP2N.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garin Nugroho, anggota Komisi Kebudayaan BP2N mengatakan, "BP2N perlu&lt;br /&gt;merestrukturisasi diri dengan mengubah peran formal yang selama ini&lt;br /&gt;diemban jadi peran sosiologis." Sejalan dengan fungsi membudayakan&lt;br /&gt;film yang diemban Garin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak mungkin kan kalau kita terjun ke daerah, terus memberikan&lt;br /&gt;pelatihan membuat film. Butuh dana besar, dan itu kan tidak efektif.&lt;br /&gt;Yang penting sekarang BP2N perlu mendapatkan pengakuan secara&lt;br /&gt;sosiologis dari insan perfilman agar mudah mengubah diri dengan pola&lt;br /&gt;dan cara kerja baru," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMBER daya manusia akan jadi bahasan penting dalam mendedah gerakan&lt;br /&gt;film indie. Perihal ini Garin Nugroho tak banyak berharap, kecuali&lt;br /&gt;memberi kesempatan seluas-luasnya pada indie filmmaker untuk belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perkembangan film nasional memang cepat. Cepat tapi pincang.&lt;br /&gt;Bagaimana tidak, problem sinema Indonesia ialah dalam sejarah yang&lt;br /&gt;begitu singkat harus mengajar banyak orang dalam euforia yang begitu&lt;br /&gt;tinggi. Satu sisi harus berkarya, sisi lain harus mengajar," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu yang bisa meningkatkan sumber daya manusia bidang film&lt;br /&gt;apalagi kalau bukan sekolah film. Sayangnya, Indonesia hanya punya&lt;br /&gt;dua nama untuk ini, IKJ dan Institut Seni Indonesia (ISI) di&lt;br /&gt;Yogyakarta. Ada satu lagi, Pusat Pendidikan Film dan Televisi,&lt;br /&gt;semacam lembaga kursus bikin film bersertifikat milik Perum Produksi&lt;br /&gt;Film Negara (PPFN).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menilik asumsi ini, Gotot Prakoso justru memandang keliru jika kampus&lt;br /&gt;diminta bertanggung jawab atas peningkatan kualitas sumber daya film&lt;br /&gt;di Indonesia. "Universitas `kan hanya memiliki kapasitas yang&lt;br /&gt;terbatas, paling hanya mampu menampung 150 mahasiswa per tahun.&lt;br /&gt;Artinya hanya mampu mendidik sebanyak itu. Lulusan sekolah film IKJ&lt;br /&gt;harus ada yang turun ke masyarakat, menularkan pengetahuannya pada&lt;br /&gt;masyarakat, lewat workshop misalnya. Seperti yang dilakukan yayasan&lt;br /&gt;Konfiden, SET dan Pop Corner," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alex Luthfi R, pembantu dekan III Fakultas Seni Media Rekam dan&lt;br /&gt;Televisi Institut Seni Indonesia, punya harapan yang tak jauh beda&lt;br /&gt;dengan Gotot. "Kita mencoba untuk tak membuat jarak dengan mahasiswa,&lt;br /&gt;kita mendorong mereka untuk diskusi, membuat kine klub dan mengadakan&lt;br /&gt;workshop-worshop film hingga keluar kota. Kami tak mampu berbuat&lt;br /&gt;banyak, fasilitas dan buku yang ada tak cukup memadai untuk&lt;br /&gt;menularkan pengetahuan. Mungkin lewat interaksi mahasiswa kami dengan&lt;br /&gt;masyarakat bisa membuat film makin membudaya," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Tomy Taslim, dari Four Colors Community Yogyakarta, menganggap&lt;br /&gt;masih ada jalan lain. Pertama, melalui buku dan kedua dengan&lt;br /&gt;internet. "Okelah tak banyak memang buku tentang film yang&lt;br /&gt;diterbitkan, jarang pula tokoh-tokoh film yang menulis buku untuk&lt;br /&gt;membagi pengetahuannya. Tapi kenapa tak dicoba lewat internet. Saya&lt;br /&gt;percaya internet mampu jadi medium belajar, terutana bagi kawan-kawan&lt;br /&gt;di daerah. Yang tak pernah dapat workshop, apalagi baca buku tentang&lt;br /&gt;film," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenjangan pengetahuan dan informasi inilah yang dirasakan betul&lt;br /&gt;oleh Dede Leman, sineas muda dari Dev. Film Sinema Korupa&lt;br /&gt;Makassar. "Banyak kendala yang kami alami, dari birokrasi&lt;br /&gt;pemerintahan lokal yang tak tahu apa itu film independen, jadi kita&lt;br /&gt;musti sosialisasi, di kampus-kampus, dan di forum-forum diskusi.&lt;br /&gt;Kemudian soal informasi dan pengetahuan tentang film. Kami sering&lt;br /&gt;terlambat mengetahuinya, mungkin karena teman-teman Jawa kurang&lt;br /&gt;berbagi dengan teman-teman daerah khususnya saat mengalami&lt;br /&gt;kesulitan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa saja kesulitannya?" tanya saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau soal teknis, ada kawan lulusan dari Pusat Perfilman Haji Usmar&lt;br /&gt;Ismail (PPHUI) yang bisa bantu. Meski begitu, peralatan sering&lt;br /&gt;pinjam, kamera kami hanya pakai handycam analog. Yang sulit itu soal&lt;br /&gt;editing, kami tidak tahu apa-apa, disamping karena peralatannya tidak&lt;br /&gt;memadai," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu baru keluhan Makassar, belum yang di Berau Kalimantan Selatan,&lt;br /&gt;Lampung, Banjarmasin, Palopo Sulawesi Selatan, Mataram, Papua dan&lt;br /&gt;Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, Indonesia patut bersyukur mempunyai dua lembaga yang&lt;br /&gt;giat bergelut dalam transformasi pengetahuan film pada masyarakat.&lt;br /&gt;Khususnya masyarakat pinggiran yang jauh dari pusat informasi dan&lt;br /&gt;kekuasaan. Mereka adalah Yayasan SET dan Yayasan Pop Corner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SET didirikan 1987 lalu oleh Garin Nugroho dan Arturo GP, rekannya&lt;br /&gt;dari IKJ. Tahun 1999 SET berubah jadi yayasan, berbadan hukum dengan&lt;br /&gt;fokus kerja yang lebih jelas. SET terbagi dalam lima divisi. Ragam,&lt;br /&gt;yang bergerak dalam ranah multikulturalisme, divisi desain informasi,&lt;br /&gt;divisi pendidikan dan penerbitan, divisi televisi publik, dan divisi&lt;br /&gt;produksi. Sampai akhir tahun ini SET telah memproduksi lebih dari 50&lt;br /&gt;film, termasuk serial film pendidikan anak-anak, Visi Anak Bangsa dan&lt;br /&gt;Pustaka Anak Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aryo Danusiri menggawangi Ragam, divisi yang menjelajah ranah kreasi&lt;br /&gt;masyarakat Aceh dan Papua dalam beberapa sesi workshop filmnya. Film&lt;br /&gt;ini digunakan sebagai medium pengenalan budaya lokal, pendidikan di&lt;br /&gt;daerah konflik dan pengukuhan identitas mereka. Hasilnya, Penyair&lt;br /&gt;Negeri Linge, kisah penyair cum- tahanan politik Ibrahim Kadir di&lt;br /&gt;Linge, Aceh Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu SET juga mengadakan workshop film di Bontang Kalimantan&lt;br /&gt;Timur dan Papua. "Rencana ke depan kami hendak membuat Rumah Visual&lt;br /&gt;di Aceh, Papua dan kelak daerah-daerah lain. Ini hanya tempat&lt;br /&gt;berkumpul, tempat menstimulus gagasan lanjutan paska workshop.&lt;br /&gt;Biayanya cukup mahal, antara Rp 100 sampai 200 juta per rumah visual,&lt;br /&gt;alatnya nanti ditinggal, program-programnya dibiayai," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pop Corner lain lagi. Yayasan ini bergerak ke wilayah anak-anak usia&lt;br /&gt;sekolah, rentangnya antara 13-18 tahun, tepatnya anak usia SMP dan&lt;br /&gt;SMA. Cakupan kerjanya tak hanya film, namun merambah pula ke&lt;br /&gt;fotografi, sastra, penulisan script, dan olahraga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bendera Program Bimbingan Anak Sampoerna mereka memberi&lt;br /&gt;workshop film pada anak-anak SMP dan SMA di seputar Jakarta, Bandung,&lt;br /&gt;Yogyakarta, Surabaya dan Makassar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika dulunya mereka cuma konsumsi, kini kita ajak untuk berproduksi.&lt;br /&gt;Anak-anak SMP SMA diajak untuk bisa bercerita lewat film," kata Ismet&lt;br /&gt;Fanany, ketua Yayasan Pop Corner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir 70 komunitas film pemula yang mereka bina. Jika satu kine klub&lt;br /&gt;menghasilkan satu saja karya film, maka kine klub binaan Pop Corner&lt;br /&gt;sudah menghasilkan 70 film indie tiap sesi workshop sekali dalam&lt;br /&gt;setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produktivitas indie filmmaker agaknya tak perlu diragukan. Mari kita&lt;br /&gt;hitung. Jika dalam satu FVII, masuk rata-rata 60-70 film, maka hingga&lt;br /&gt;tahun ke-IV, jumlahnya jadi 240-280 film. Itu baru festival Konfiden,&lt;br /&gt;belum festival kine klub lain, di Yogyakarta, Bandung, Surabaya, dan&lt;br /&gt;Malang. Sedang Festival Film Independen Indonesia (FFII) SCTV Juli&lt;br /&gt;lalu, mampu menyedot 747 peserta dari seluruh Indonesia. Bayangkan,&lt;br /&gt;kalau kontinuitas ini mampu dipertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FAKTOR pendukung berikutnya adalah industri televisi. Logikanya&lt;br /&gt;begini. Dulu, saat Orde Baru, ada 5 stasiun televisi swasta nasional&lt;br /&gt;dengan 400 jam tayang per minggu. Kini, Indonesia punya 11 stasiun&lt;br /&gt;televisi sehingga jam tayangnya diperkirakan mencapai 800 jam per&lt;br /&gt;minggu. Ini belum termasuk televisi lokal atau televisi komunitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Hariyanto, public officer SCTV, yang beberapa bulan lalu&lt;br /&gt;mengadakan FFII, tak cukup optimis dengan gagasan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau dilihat jam siar dari sisi content memang bisa, tapi bagaimana&lt;br /&gt;dengan sisi format. Bagaimanapun film independen kan film pendek,&lt;br /&gt;durasi dan formatnya terbatas. Padahal format televisi harus ada jeda&lt;br /&gt;atau break untuk mengikat pemirsa agar tak pindah channel. Break&lt;br /&gt;disini bukan semata-mata iklan komersial lho, tapi format bakunya&lt;br /&gt;memang seperti itu. Jadi, belum tentu dengan jam tayang yang makin&lt;br /&gt;banyak akan jadi media tayang yang baik bagi film indie," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang memang, di Indonesia baru SCTV yang berani dan mau menayangkan&lt;br /&gt;film indie. Itupun insidental, hanya sebatas menayangkan 10 film&lt;br /&gt;pemenang dalam FFII. Padahal televisi bisa jadi lahan potensial&lt;br /&gt;penayangan film indie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar contoh, di Amerika, selain di festival tahunan di setiap&lt;br /&gt;kota, dari Texas hingga New York, film indie juga diputar di bioskop-&lt;br /&gt;boskop kelas dua. Tak lupa industri televisi juga ikut menopang&lt;br /&gt;keberadaan mereka, misal; NBC, RCA, CBS dan ABC yang punya jam tayang&lt;br /&gt;reguler film indie. Metode ini memungkinkan film indie terjaga&lt;br /&gt;kontinuitasnya untuk diapresiasi pemirsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain televisi, agaknya bioskop juga jadi faktor yang menentukan&lt;br /&gt;dalam perkembangan film indie ke depan. Dalam awal kemunculannya,&lt;br /&gt;hanya Kuldesak yang bisa masuk ke jaringan bioskop kelas satu.&lt;br /&gt;Sedang, sekedar contoh, film Bingkisan Buat Presiden (1999) dan Beth&lt;br /&gt;(2000) karya Aria Kusumadewa, Bintang Jatuh (1999) karya Rudi&lt;br /&gt;Sudjarwo dan Pachinko And Everyone's Happy (1999) karya Harry&lt;br /&gt;Suharyadi hanya bisa nampang di festival dan acara pemutaran di&lt;br /&gt;kampus-kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebabnya jelas, monopoli bioskop. Negara hendaknya menghapus proteksi&lt;br /&gt;dan menerbitkan undang-undang antimonopoli bioskop. Juga memberi&lt;br /&gt;ruang apresiasi bagi film indie di bioskop-bioskop atau ruang tayang&lt;br /&gt;publik, meski cuma di kelas C atau kelas 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokok masalahnya pada kebijakan pemerintah terhadap impor film. Kuota&lt;br /&gt;tayang bioskop dibabat habis film impor. Dari film Hollywood,&lt;br /&gt;Mandarin, film-film Eropa hingga India. Data di LSF dalam tiga tahun&lt;br /&gt;terakhir mencatat angka 275 film yang lolos sensor dan ditayangkan&lt;br /&gt;bioskop. Tahun 2001, film impor dari Eropa dan Amerika berjumlah&lt;br /&gt;sekitar 90 film, yang 61 persen diantaranya diimpor dan ditayangkan&lt;br /&gt;jaringan 21 Cineplex Group. Setahun kemudian, dalam kurun enam bulan&lt;br /&gt;terakhir, film impor mencapai 151 judul, dan 56 judul diantaranya&lt;br /&gt;dimonopoli oleh jaringan 21 Cineplex Group. Bandingkan dengan&lt;br /&gt;produksi film komersial domestik dalam lima tahun terakhir yang hanya&lt;br /&gt;berkisar 30 judul film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah perusahaan importir film pun membengkak. Pada 1980 hingga 1990-&lt;br /&gt;an kita hanya mengenal PT Camila Internusa Film, PT Satrya Perkasa&lt;br /&gt;Esthetika Film, PT Amero Mitra Film, dan PT Ace Indonesia Film&lt;br /&gt;sebagai importir film. Sejak tahun 2001 jumlahnya membengkak jadi 21&lt;br /&gt;perusahaan importir film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mencapai titik equilibrium antara film produksi lokal dan&lt;br /&gt;film impor? Mudah, berilah kesempatan masa tayang yang sama. Termasuk&lt;br /&gt;beberapa sinema independen yang bermutu dan memenuhi kualifikasi&lt;br /&gt;tayang di bioskop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, soal monopoli kepemilikan dan distribusi film oleh Subentra&lt;br /&gt;Group milik Sudwikatmono, yang menguasai jaringan bioskop 21 Cineplex&lt;br /&gt;Groups. Kenapa monopoli harus dihapus? Karena tak ada pemerataan&lt;br /&gt;putar pada jam dan hari tayang yang sama antara bioskop jaringan 21&lt;br /&gt;Cineplex Group dengan yang bukan. Lebih spesifik, kesempatan&lt;br /&gt;menayangkan film yang sama dalam rentang waktu sama bagi bioskop-&lt;br /&gt;bioskop daerah, diluar kota-kota besar macam Jakarta, Bandung, dan&lt;br /&gt;Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang terlewat, yakni kewajiban membayar pajak tontonan oleh&lt;br /&gt;importir film dan bioskop bersangkutan untuk keperluan perfilman&lt;br /&gt;nasional. Celakanya, sejak departemen penerangan dibubarkan sudah tak&lt;br /&gt;ada lagi perusahaan importir film dan bioskop yang membayar tagihan&lt;br /&gt;ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dulu di DKI Jakarta pajak tontonan mencapai 15-25 % harga tiket.&lt;br /&gt;Tapi kita tak pernah tahu larinya kemana. Pusat Perfilman Haji Usmar&lt;br /&gt;Ismail toh tetap gitu-gitu aja kondisinya," kata Dyah Aryani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dulu dana pajak tontonan menguap tak bermuara, kini malah tak&lt;br /&gt;dibayar sama sekali. Bagaimana bisa perfilman nasional bisa tumbuh&lt;br /&gt;dengan baik jika dukungan dari industri perfilman macam perusahaan&lt;br /&gt;bioskop dan importir film tak memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANYAK yang layak disimak dan dicatat dalam 4 tahun perjalanan&lt;br /&gt;gerakan sinema independen sejak 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Film Indonesia berada dalam sebuah fase rekonstruksi. Ada upaya dari&lt;br /&gt;orang-orang yang peduli pada film Indonesia yang ingin membangun&lt;br /&gt;kembali film Indonesia. Saya belum bisa mendeskripsikan film nasional&lt;br /&gt;mengalami kemajuan. Kita masih harus menunggu 5-10 tahun lagi untuk&lt;br /&gt;menyebut film Indonesia mengalami kemajuan," kata Victor C. Mambor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayu Sulistiyo, sutradara Kelolodhen (2001) dan Loud Me Loud (2002),&lt;br /&gt;dari Kasat Mata Yogyakarta tak terlalu pusing menanggapi isu&lt;br /&gt;kebangkitan film nasional. Baginya, dua film animasinya yang menang&lt;br /&gt;sebagai film favorit di FFVII 2002 dan ditayangkan di Jakarta&lt;br /&gt;International Film Festival, serta ditonton orang sudah cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku pribadi pengin Indonesia menghasilkan film-film bermutu.&lt;br /&gt;Sebenarnya para sineas muda itu berpotensi, cuma nggak ada sarana dan&lt;br /&gt;kesempatan. Misalnya dikasih sarana untuk membuktikan, banyak yang&lt;br /&gt;akan berani," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak bisa dipungkiri banyak karya elok lahir dari besutan sutradara&lt;br /&gt;muda, amatir dan tak berpendidikan khusus ini. Beberapa dari mereka&lt;br /&gt;bahkan berhasil memenangi penghargaan internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, untuk tak menyebut terlalu banyak; Di Antara Masa Lalu dan&lt;br /&gt;Masa Sekarang (2001) karya Eddie Cahyono pemenang Konfiden Award pada&lt;br /&gt;FFVII 2001. Topeng Kekasih (2001) karya Hanung Bramantyo dan Da Pupu&lt;br /&gt;Project (2001) karya Wahyu Aditya bahkan sempat diputar pada suatu&lt;br /&gt;seminar film di Leiden Belanda. Karya Hanung Bramantyo yang lain,&lt;br /&gt;Gelas-Gelas Berdenting (2000) pernah meraih juara III Bronze 11th&lt;br /&gt;Cairo International Film Festival kategori program televisi di Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya klasik sosiolog Erich Fromm, Revolution Of Hope yang&lt;br /&gt;diterjemahkan jadi Revolusi Harapan (1999) serta Di Atas Rel Kereta&lt;br /&gt;api (2001) produksi God Spirit Film Production yang disutradarai&lt;br /&gt;Nanang Istiabudi meraih Silver Medal dalam kompetisi dan kategori&lt;br /&gt;Independent Profesional di Brno Noncommercial Film and Video Festival&lt;br /&gt;di Republik Ceko dalam dua tahun berturut-turut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali waktu, pernah juga SBS, stasiun televisi swasta Australia&lt;br /&gt;membeli karya Tintin Wulia dari komunitas Kokun Bali yang berjudul&lt;br /&gt;Violence Against Fruits (2001) dan Are You Close Enough? (2001) untuk&lt;br /&gt;ditayangkan disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air Mata Surga karya Eddie Cahyono dan Ifa Ifansyah, yang jadi judul&lt;br /&gt;naskah ini terpilih jadi film pembuka FFVII 2002. Karya yang&lt;br /&gt;istimewa. Keceriaan anak-anak, persahabatan, layang-layang, sawah&lt;br /&gt;desa, tarian tradisional, warna-warni syahdu, dan ketulusan dengan&lt;br /&gt;teknik sinematografi yang nyaris sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GERAKAN film indie punya banyak pekerjaan rumah yang harus segera&lt;br /&gt;dibenahi. Diantaranya persoalan transfer informasi dan pengetahuan&lt;br /&gt;film dengan lebih merata ke seluruh pelosok nusantara. Membangun&lt;br /&gt;jaringan komunikasi yang lebih kokoh sekaligus berfungsi menyiapkan&lt;br /&gt;medium distribusi karya yang luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimas Jayasrana mulai memelopori pembuatan buku saku dan pembuatan&lt;br /&gt;database kine klub seluruh Indonesia. "Saat ini data yang terkumpul&lt;br /&gt;kurang lebih antara 75 – 80 kine klub yang sudah masuk. Kita masih&lt;br /&gt;menunggu, sebab kemungkinan akan bertambah," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memecah kebekuan, kesenjangan informasi dan akses antara Jawa dan&lt;br /&gt;luar Jawa. Eksplorasi tiada henti untuk mewujudkan perfilman&lt;br /&gt;Indonesia jadi lebih baik. Ciptakan pasar yang mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi masalah kesenjangan, Ifa Ifansyah, sutradara Air Mata&lt;br /&gt;Surga, tak sepakat, "Sebenarnya bukan berarti mengkotak-kotakkan&lt;br /&gt;film. Bahwa ini film Yogyakarta, Bandung, Jakarta atau luar Jawa. Ini&lt;br /&gt;hanya sebuah awal, kebetulan saja akhir-akhir ini teman-teman Yogya&lt;br /&gt;sudah mulai ikut festival di Jakarta. Ada komunitas film di sini yang&lt;br /&gt;ikut mensupport film nasional, salah satunya dengan saling membagi&lt;br /&gt;informasi dengan teman-teman komunitas film lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar yang mandiri. Istilah ini sering dipakai untuk menilik betapa&lt;br /&gt;lemahnya indie filmmaker berurusan dengan soal yang satu ini. Mungkin&lt;br /&gt;karena dianggap terlalu pragmatis. Merasa tak menguasai bidang&lt;br /&gt;manajeemen, bisnis dan pemasaran maka banyak indie filmmaker lebih&lt;br /&gt;memilih menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gagasan lama tetap, yaitu bikin Pesta Sinema Indonesia yang&lt;br /&gt;berfungsi me-roadshow-kan karya ke beberapa kota yang sepakat&lt;br /&gt;menyelenggarakan Pesta ini secara bergiliran. Atau bioskop alternatif&lt;br /&gt;dengan tempat permanen, tak harus seperti bioskop yang kita kenal,&lt;br /&gt;tapi fungsi kontinuitasnya," kata Dimas Jayasrana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garin Nugroho punya strategi menarik bagi gerakan ini. Ia&lt;br /&gt;mengatakan, "Perlunya merumuskan sistem dalam mencapai cita-cita&lt;br /&gt;perfilman Indonesia. Pertama, jaringan distribusi yang berkeadilan.&lt;br /&gt;Kedua, pasar yang berkeragaman. Ketiga, tema yang saling&lt;br /&gt;berkeseimbangan, baik mainstream maupun sidestream. Keempat, perlunya&lt;br /&gt;sistem hukum dan ekonomi yang saling berhubungan. Dan kelima,&lt;br /&gt;konsistensi karya dan kualitas selama 5 sampai 10 tahun. Jika kelima&lt;br /&gt;prasyarat tadi sudah dipenuhi maka idiom `kebangkitan' film nasional&lt;br /&gt;takkan hanya ada di awang-awang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lantas, apa kritik untuk gerakan film independen sekarang?" tanya&lt;br /&gt;saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah Aryani dengan malu-malu mengatakan, "Sudah bagus, kemarin yang&lt;br /&gt;saya lihat di FFVII bagus-bagus kok. Tapi kalau bisa jangan asal&lt;br /&gt;bikin, asal-asalan, bagaimanapun pesannya kan harus sampai ke&lt;br /&gt;penonton."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ifa Ifansyah lain lagi, soal kritik pada sinema independen, ia malah&lt;br /&gt;balik bertanya, "Lho, bukannya saya yang butuh kritik." *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25114427-116240714610149490?l=journeyhasbegin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journeyhasbegin.blogspot.com/feeds/116240714610149490/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25114427&amp;postID=116240714610149490' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25114427/posts/default/116240714610149490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25114427/posts/default/116240714610149490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journeyhasbegin.blogspot.com/2006/11/air-mata-surga.html' title='Air Mata Surga'/><author><name>TAUFIK  ANDRIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09308518494811761621</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25114427.post-114423084844079588</id><published>2006-04-05T16:52:00.000+07:00</published><updated>2006-04-05T16:54:08.546+07:00</updated><title type='text'>Media Kepala Batu</title><content type='html'>Pantau, edisi Mei 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media Kepala Batu&lt;br /&gt;Oleh: Taufik Andrie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKHIR Maret lalu ada momentum menarik di gedung parlemen Senayan. Tepatnya 21 Maret, saat ada rapat dengar pendapat antara Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat dengan Dewan Pers dan organisasi-organisasi media. Perdebatan panas, menimbulkan banyak kasak-kusuk.&lt;br /&gt;Komisi yang membawahkan masalah Pertahanan dan Hubungan Luar Negeri ini risau dengan perkembangan pers Indonesia. Astrid Susanto, wakil ketua Komisi I, sekaligus guru besar komunikasi Universitas Indonesia, memimpin sidang dan mengatakan lelah melihat fenomena ini. "Itu cerita lama lah, soal pers yang kepala batu dan mau menangnya sendiri."&lt;br /&gt;Pers sekarang tak lebih baik dengan pers zaman demokrasi liberal 1950-an yang dirasanya lebih beretika. "Etika pers sekarang sudah menipis, banyak undang-undang yang dilanggar pers, masyarakat saja yang malas untuk nuntut," kata Astrid Susanto.&lt;br /&gt;Tengok saja pertanyaan pertamanya kepada Dewan Pers: Setujukah Dewan Pers dengan pernyataan bahwa pers Indonesia sudah dianggap berlebihan atau kebablasan dalam menerapkan prinsip kebebasan pers?&lt;br /&gt;Pertanyaan kedua: Konsep apa saja yang sudah dirumuskan Dewan Pers untuk menjawab berbagai kritik .... misalnya yang berkaitan dengan maraknya pornografi, wartawan bodrex, pencemaran nama baik dan sebagainya?&lt;br /&gt;Lebih tajam lagi. Astrid Susanto menyalahkan Dewan Pers, yang disebutnya "tak berfungsi dengan baik." "Seharusnya mereka kan penghubung antara masyarakat, pemerintah dan pers, bukan pembela pers," katanya.&lt;br /&gt;Astrid Susanto, ia sendiri pernah jadi anggota Dewan Pers pada era rezim Orde Baru dekade 1970-an, minta tanggung jawab pers dalam melakukan pendidikan pada masyarakat, baik langsung maupun tak langsung. "Karena pers berada di ruang publik berarti pers harus bertanggung jawab pada publik."&lt;br /&gt;"Kalau dulu tanggung jawab yang besar tak diikuti dengan kebebasan yang besar, sekarang kebebasannya besar tapi tanggung jawabnya tak dipenuhi," kata Susanto, mengacu pada zaman pers di bawah sensor Orde Baru.&lt;br /&gt;Susanto bukan suara kesepian dalam sidang itu. Anggota lainnya ramai-ramai menguliti mutu jurnalisme Indonesia. Djoko Susilo dari Partai Amanat Nasional, yang pernah jadi redaktur pelaksana Jawa Pos, kecewa dengan kondisi media yang tak berubah setelah dua tahun lalu digelar rapat yang sama.&lt;br /&gt;Susilo mengatakan media sering tak mengerti prinsip-prinsip jurnalisme, "As long as you can write you can be a journalist." Sinisme Susilo ini seakan mengatakan kualitas media Indonesia dibentuk oleh orang-orang sembarangan, yang direkrut jadi wartawan, untuk menulis, untuk cuap-cuap, tanpa pendidikan dan pelatihan memadai.&lt;br /&gt;Lain lagi Paulus Widiyanto dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Widiyanto pernah jadi redaktur pelaksana jurnal ekonomi dan politik Prisma. Ia mengeluh soal profesionalisme wartawan. Satu contoh menarik. "Di rumah Maya Rumantir ditemukan celana dalam Tommy (Soeharto), misalnya. Bayangkan, kamar tidur menjadi wilayah publik, nggak benar itu."&lt;br /&gt;Jelasnya, ada beberapa titik dalam sidang itu. Keberangan parlemen terhadap media sudah di ambang batas. Belum lagi kritik mereka terhadap pornografi, wartawan amplop, dan media yang anti-nasionalisme, khususnya di daerah Aceh dan Papua. Muaranya, mereka menganggap Undang-undang Pers 1999 gagal menjawab segunung masalah tersebut. Karena itulah wacana revisi digulirkan.&lt;br /&gt;Atmakusumah Astraatmadja, ketua Dewan Pers, membela diri dengan memberi perbandingan. Astraatmadja mengatakan memang ada media yang tak benar tapi persentasenya relatif kecil. "Menurut Leo Batubara, ketua Serikat Pekerja Suratkabar, media besar dan berpengaruh baik di pusat maupun daerah, menguasai hampir 90 persen pasar media," kata Astraatmadja.&lt;br /&gt;Artinya, ada mekanisme pasar di sana. Media yang tak profesional, yang hanya ingin memuaskan selera rendah, tak akan banyak, tak akan lama, dibaca orang. Akibatnya, efeknya pada masyarakat pun tak luas. Memang Astraatmadja mengatakan kinerja Dewan Pers belum maksimal. "Butuh waktu yang bukan hanya setahun dua tahun untuk membenahi ini. Jangankan di negara seperti kita, di negara maju pun masih banyak pers kuning -untuk menyebut media pornografi, koran provokatif dan fenomena senada," katanya.&lt;br /&gt;Solahudin dari Aliansi Jurnalis Independen, yang ikut rombongan Astraatmadja, mengatakan, "Tentu saja kita tidak bisa berharap ketika kebebasan pers datang, kita dengan tiba-tiba bisa menjadi profesional. Selama sekian puluh tahun kita dipasung sedemikian rupa agar kita menjadi tidak profesional."&lt;br /&gt;Revisi undang-undang? Solahudin mengatakan Kitab Undang-undang Hukum Pidana sedikitnya memuat 38 pasal delik pers. Tiga di antaranya merupakan pasal-pasal kebencian, peninggalan pemerintahan kolonial Belanda, yang bisa memenjarakan seorang wartawan hingga tujuh tahun lamanya.&lt;br /&gt;Tapi tampaknya pertemuan itu tak mendinginkan kedua belah pihak. Astraatmadja mengirim email ke berbagai koleganya, dalam dan luar negeri, mengeluh soal konservatisme parlemen Indonesia. Astrid Susanto tak kalah panasnya. "Pers diajak bernalar nggak bisa, ya udah. Diajak ngomong nggak bisa, ya udah, monggo kerso, sak karepmu (silahkan saja, seenakmu sendiri). Yang pasti performance pers dalam rapat dengar pendapat kemarin sangat merugikan pers sendiri."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25114427-114423084844079588?l=journeyhasbegin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journeyhasbegin.blogspot.com/feeds/114423084844079588/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25114427&amp;postID=114423084844079588' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25114427/posts/default/114423084844079588'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25114427/posts/default/114423084844079588'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journeyhasbegin.blogspot.com/2006/04/media-kepala-batu.html' title='Media Kepala Batu'/><author><name>TAUFIK  ANDRIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09308518494811761621</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25114427.post-114421173081958284</id><published>2006-04-05T11:30:00.000+07:00</published><updated>2006-04-05T16:10:59.983+07:00</updated><title type='text'>Puzzle Bomb</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;Pantau, edisi Juni 2002&lt;br /&gt;Puzzle Bomb&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;Kisah pelaku peledakan bom di Atrium Senen yang dipidana mati&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Taufik Andrie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;SEBUAH ruang pengadilan di Jakarta Pusat pada Selasa, 7 Mei 2002. Seorang laki-laki duduk tepekur di kursi terdakwa. Ia meletakkan tangan kirinya di paha kanan, sedang tangan kanannya menelusup pada celah kruk yang didirikan. Sepintas ia seperti bersandar, bersandar pada kruk penyangga, pengganti kaki kanannya yang buntung.&lt;br /&gt;Laki-laki buntung itu menanti vonis.&lt;br /&gt;Taufik bin Abdul Halim namanya. Warga negara Malaysia dengan banyak nama alias. Dodi Mulia, Doni, Yudi Mulya Purnomo, Herman, dan Dani. Namun, nama yang disebut terakhir lebih membuatnya nyaman. Ia dituduh membawa bom yang meledak di pintu masuk Atrium Senen, 1 Agustus 2001.&lt;br /&gt;Dani kurus. Tingginya mencapai 170 centimeter, berjenggot tipis panjang. Matanya nyalang, sorotnya tajam. Ia selalu berbaju lengan panjang, kuning kusam dari bahan kaos, berpeci biru terang ala Raihan, kelompok acapella bersyiar Islam asal Malaysia, bercelana krem pudar agak gombrang dengan belah kanan tergulung hingga 10 centimeter di bawah lutut.&lt;br /&gt;Kakinya diamputasi karena terkena ledakan TNT di Atrium Senen. Menurut kesimpulan pengadilan, bom itu sedianya meledak pukul 21.15, tepat saat orang-orang kristiani memasuki bus mini mereka usai kebaktian di salah satu lantai Atrium Senen. Namun, apa lacur, bom meledak satu jam sebelum dipasang pada sasaran. Enam orang luka tapi tak ada korban nyawa.&lt;br /&gt;Akibatnya fatal, operasi gagal, misi pun tercium. Dani, saksi kunci yang berdiri paling dekat dengan sumber ledakan, jadi tersangka.&lt;br /&gt;"Peledakan itu semata sebagai wujud balas dendam atas perlakuan umat kristiani dalam peristiwa kerusuhan di Ambon," kata Dani di persidangan, merujuk pada konflik bertendensi agama di kepulauan Maluku sejak Januari 1999.&lt;br /&gt;Dani tak sendirian. Ia beraksi bersama lima orang kawannya, satu di antaranya warga negara Malaysia, Imam Samudra. Lainnya warganegara Indonesia: Agung alias Faisal; Darwin alias Asep; Eddy Setiono alias Abbas alias Usman; serta Ibrahim alias Rusli alias Dicki.&lt;br /&gt;Ibrahim datang ke Jakarta bersama Dani dari Surabaya pada April 2001. Seorang lagi bernama Ismail, hingga sekarang tak ketahuan rimbanya. Sebelumnya Ibrahim, Dani, dan Ismail, berada di Ambon dari Juni 2000 hingga paruh April 2001 untuk ikut melakukan "jihad."&lt;br /&gt;Seorang lagi ditangkap. Eddy Setiono, akrab dipanggil Abbas, saat itu sedang menonton televisi bersama ketiga anak perempuannya di bilangan Kayu Manis, Matraman, Jakarta. Ia ditangkap selang dua minggu setelah Dani disidik polisi.&lt;br /&gt;Sesuai kesaksian Abbas maupun Dani di pengadilan, Abbas berperan sebagai pengemudi mobil yang mengantar Dani, Asep, Agung, Rusli serta Imam Samudra ke Atrium Senen. "Saya hanya mengantar, saat mereka masuk ke Atrium saya tak ikut. Saat mereka membawa bungkusan pun saya tak tahu apa isinya, mereka tak memberitahu saya," kata Abbas.&lt;br /&gt;Ironi perkawanan. Meski kesaksian Abbas meyakinkan, hakim berpendapat tak mungkin Abbas tak tahu kegiatan teman-temannya.&lt;br /&gt;Kilatan blitz berkelebatan. Wajah-wajah tegang memenuhi ruang pengadilan. Pengap, berisik. Bising mesin diesel di gedung sebelah sangat memekakkan telinga. Rupa-rupanya bilangan Gajah Mada Plaza ini tak cukup bersahabat bagi berlangsungnya pengadilan kasus ini.&lt;br /&gt;Ketua majelis hakim Panusunan Harahap membacakan amar putusan, "Terdakwa terbukti bersalah, secara sah dan meyakinkan masuk ke Indonesia secara ilegal. Membawa dan seterusnya, .... bahan peledak, hingga menimbulkan keresahan masyarakat, mengganggu stabilitas nasional. Mencoba mengadu domba antarumat beragama atas perbuatannya. Karena itu terdakwa layak dan pantas secara hukum untuk dijatuhkan hukuman mati."&lt;br /&gt;"Hah!" teriakan lirih ekspresi kaget bergema di setiap sudut. Pengunjung, pengacara, jaksa yang menuntutnya 20 tahun penjara, juga para wartawan yang meliput terkejut.&lt;br /&gt;"Perbuatan ini membawa pengaruh yang besar di masyarakat, risikonya besar dan dahsyat," kata Harahap.&lt;br /&gt;Duni Nirbayati, pengacara Dani dari kantor hukum D. Nirbayati dan Rekan mengatakan, "Ia cukup kooperatif dalam memberikan keterangan selama penyidikan. Bukankah itu hal yang meringankan? Kok bisa vonisnya mati."&lt;br /&gt;Dani terlihat gemetar saat dipersilakan duduk kembali ke bangku pengunjung. Kulit mukanya memerah, pias. "Saya tidak setuju. Tidak ada korban tewas di sana, masak saya dihukum mati. Ini bukan pengadilan namanya, tapi hakim menghukum perbuatan saya," kata Dani, suaranya bergetar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;SEPEKAN kemudian. Senin, 13 Mei 2002, dalam gedung yang sama, Eddy Setiono alias Abbas menanti putusan. Abbas orang Jakarta, pekerjaannya berdagang air mineral, tapi juga kambing dan hewan kurban lain saat Idul Adha. Mendadak ruang sidang hening, saat ketua majelis hakim Sirande Palayukan mengatakan, "Karena itu terdakwa layak dan pantas secara hukum untuk dijatuhkan hukuman mati."&lt;br /&gt;Baik Dani maupun Abbas terbukti melanggar Undang-undang Darurat Indonesia pasal kepemilikan bahan peledak. Vonis serupa untuk kasus yang sama.&lt;br /&gt;Abbas terlihat matanya sayu. "Pengadilan ini tidak adil, pengadilan tak bisa membuktikan saya ada di tempat kejadian, atau saya yang bawa barangnya, kok saya dihukum mati," katanya.&lt;br /&gt;Muchtar Luthfi, pengacara Abbas dari Muchtar Luthfi dan Partners, menimpali, "Ini bagian dari skenario nasional untuk menunjukkan ke dunia internasional bahwa Indonesia sungguh-sungguh gigih memberantas terorisme."&lt;br /&gt;Asumsinya, "perang terhadap terorisme" kini jadi perhatian pemerintah Amerika Serikat dan para pendukungnya. Indonesia disorot mengingat banyaknya kelompok Islam radikal dengan militansi tinggi.&lt;br /&gt;Luthfi mengatakan tuntutan 20 tahun penjara datangnya dari Jaksa Agung M.A. Rachman. Ia mengatakan sidang Abbas sempat tertunda karena jaksanya masih menunggu angka 20 tahun itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini bermula Juni 2000&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;Learn the Zen art of patience ... to be continued&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25114427-114421173081958284?l=journeyhasbegin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journeyhasbegin.blogspot.com/feeds/114421173081958284/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25114427&amp;postID=114421173081958284' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25114427/posts/default/114421173081958284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25114427/posts/default/114421173081958284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journeyhasbegin.blogspot.com/2006/04/puzzle-bomb.html' title='Puzzle Bomb'/><author><name>TAUFIK  ANDRIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09308518494811761621</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25114427.post-114396123878194877</id><published>2006-04-02T13:59:00.000+07:00</published><updated>2006-04-04T00:00:34.030+07:00</updated><title type='text'>Surat Dari Nanyang</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;Surat dari Nanyang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari tak terik, namun udara terasa panas. Udara di Nanyang ini lembab juga untuk ukuran Asia Tenggara. Curah hujan tak terlalu tinggi, jauh di bawah Bogor, Malang atau Purwokerto di pulau Jawa sana. Minggu pagi ini tak ada yang istimewa. Orang-orang disekitar apartement tempat saya tinggal lebih suka piknik atau &lt;em&gt;ngendon&lt;/em&gt; dirumah. Social life begitu sulit ditemukan. Manusia masing-masing mempunyai dunianya sendiri. Di kantor, di apartement, di mall, di tempat makan, di ruang mayanya masing-masing. Selebihnya sepi. Sabtu-Minggu di kompleks kampus memang menyiksa.&lt;br /&gt;Mungkin saya salah. Mungkin saya over-assumption. Anggap saja ini buah dari perasaaan sepi selama dua minggu terakhir. Tetangga sebelah rumah tak pernah saya lihat sekalipun batang hidungnya. Kami mungkin hanya saling mendengar bunyi lift terbuka dan pintu berderit. Tanda penghuni rumah mau pergi atau sudah datang. Ini tentu bukan hal besar bagi negeri kartel macam Singapura. Repotnya, sebagai manusia sosial saya kan juga harus bersosialisasi. Untunglah ada fasilitas internet, sehingga kebutuhan ngobrol terpenuhi. Juga blog, dimana unek-unek menemukan tempatnya. Ini bukan kritik individualisme. Bukan pula kritik kebijakan. Hanya ocehan ringan, buat sendiri dan para pembaca yang budiman (ocehan kok buat pembaca...yang benar saja!)&lt;br /&gt;Tapi itu tak soal benar, karena tiap pagi hari kerja ada hiburan dari kicau burung jalak --liar- dan semarak manusia memulai aktifitas. Mesin mobil dipanaskan, orang-orang bergegas kerja; entah mengajar atau untuk belajar, orang ramai menunggu school bus gratisan di halte, sebagian berlarian karena terlambat. Menghibur, karena jumlahnya orang yang saya perhatikan sedikit. Bandingkan dengan jam masuk kerja di Jakarta yang bukannya menghibur, tapi malah bikin pening.&lt;br /&gt;Disini juga lebih beragam. Chinese memang dominan, tapi ada India, Melayu dan bule yang --sekaligus- menandai ada komunitas internasional disini. Mereka bahkan punya international house, yang berupa cafe dan semacam guest house. Semarak bangsa inilah yang memajukan Singapura. Slogan mereka "Majulah Singapura" mengedepankan sinergi dari empat aspek dasar yang membentuknya; Cina, Melayu, India dan Eropa. Kita tahu Inggris menjajah bangsa ini jauh sebelum perang dunia I. Hingga kemudian Singapura bisa lepas dari dominasi Malaysian Peninsular dan berdiri sendiri, bahkan kini sejajar dengan induknya, Malaysia, pada paruh 1960an. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;Saya kutipkan, kapan persisnya Singapura merdeka;&lt;br /&gt;"Singapore was separated from the rest of Malaysia on 9 August 1965, and became a sovereign, democratic and independent nation. Independent Singapore was admitted to the United Nations on 21 September 1965, and became a member of the Common wealth of Nations on 15 October 1965. On 22 December 1965, it became a republic, with Yusof bin Ishak as the republic's first President."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;Tak lama kemudian mereka melesat bagai anak panah yang tak lagi rindu busurnya. Singapura mampu merombak total konsep kebangsaan mereka dengan semangat demi kemajuan. Tehnologi, tata kota, gegap gempita industri, konsep pariwisata, sektor jasa, pendeknya apa saja yang bisa menghasilkan uang dan memakmurkan seluruh warga negara mereka kerjakan. Mereka menjadikan English as second language, bukan semata-mata karena mereka dulu dijajah Inggris, tapi demi menyiapkan diri menjadi pemain yang mumpuni dalam percaturan dunia. Hasilnya fantastis, 80 % penduduknya melek English. Sisanya, yang 20 % itu ternyata didominasi senior citizen, alias orang tua yang memang secara budaya masih &lt;em&gt;keukeuh&lt;/em&gt; ngomong mandarin, dan menulis dalam aksara Cina. Danjumlah yang lebih kecil lagi, yang diwakili imigran dari Indonesia, India, Bangladesh, dan sebagian kecil Afrika.&lt;br /&gt;Dari sini sudah bisa ditebak, Singapore ingin jadi 'pemain' internasional. Bukan cuma pemain kacangan kelas Asia. Cita-cita ini diejawantahkan, -salah satunya-, melalui jargon pendidikan NTU (Nanyang Technological University), "to educate Singapore(an) become Asian leader and beyond."&lt;br /&gt;Kalau ini terbukti, Indonesia pasti akan terengah-engah ketinggalan jauh dibelakang. Apa pasal? Tengok saja, dari jargon saja kita kalah jauh, apalagi konsep dan sistem pendidikan. Bukan bermaksud sarkastis, tapi olok-olok ini mungkin bisa jadi pemicu spirit introspeksi. Kampus di Indonesia banyak yang membaptis diri sebagai "Kampus Perjuangan," "Kampus Reformasi," dan "Kampus Anti-Kemapanan," untuk sekedar menyebut satu-dua. Masih banyak pula slogan aneh lainnya, "Kampus orang berdasi," "Kampus calon pengusaha sukses," "Kampus bagi mahasiswa berakhlak soleh dan berilmu tinggi." Aduh... negara lain mencetak pemimpin, masih ada pula kampus yang "mencetak" akhlak. Mohon maaf jika terkesan melecehkan. Tapi umpamanya kita sedang dalam lomba triathlon, maka Indonesia masih harus menyelesaikan renangnya dulu, padahal negara lain sudah mulai genjot sepeda. Itupun, kita berenang dengan gaya batu. Alias nyemplung...&lt;em&gt;plung&lt;/em&gt;... atau &lt;em&gt;byur&lt;/em&gt;...lantas tenggelam. Alamak...ngomong bangsa sendiri dengan olok-olok memang tak akan pernah habis. Capek dan bikin nasionalisme kita makin sempit...Dalam arti, kita hendaknya membiasakan diri untuk punya wawasan kebangsaan yang konstruktif, namuan seringkali merasa harus membela bangsa sendiri dengan pola membabi-buta. Itulah kenapa olok-olok ini jadi penting. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;Tapi tak baik juga rasanya. Dari kisah ihwal sepi hati, menyeberang ke pendidikan. Ora elok kalau orang Jawa bilang. Ora patut kalau mbak Tutut bilang ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;Ini bukan kritik nasionalism. Bukan pula upaya mengumbar borok bangsa sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;Ini semata-mata karena kawasan pemukiman yang kelewat sepi. Pun derita perut yang sudah 2 hari tak terisi nasi ... Kelak, dalam minggu-minggu berikutnya, tiap Sabtu-Minggu saya memang ditakdirkan untuk tak makan nasi...ampun deh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;tabik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:100%;"&gt;ta 04.03.2006 &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25114427-114396123878194877?l=journeyhasbegin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journeyhasbegin.blogspot.com/feeds/114396123878194877/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25114427&amp;postID=114396123878194877' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25114427/posts/default/114396123878194877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25114427/posts/default/114396123878194877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journeyhasbegin.blogspot.com/2006/04/surat-dari-nanyang.html' title='Surat Dari Nanyang'/><author><name>TAUFIK  ANDRIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09308518494811761621</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25114427.post-114381723718308694</id><published>2006-03-31T21:50:00.000+07:00</published><updated>2006-03-31T22:00:37.306+07:00</updated><title type='text'>Polling Simsalabim</title><content type='html'>Pantau, edisi tidak diterbitkan&lt;br /&gt;OBROLAN&lt;br /&gt;HIKAYAT KOMUNIKASI&lt;br /&gt;Polling Simsalabim&lt;br /&gt;Oleh : Taufik Andrie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Polling presiden sedang jadi trend. Salah satunya polling lewat SMS yang digagas SCTV. Sejak Desember 2003 lalu, SCTV mengajukan tiga pertanyaan pada publiknya: Partai politik mana yang paling Anda sukai? Siapa calon presiden yang paling Anda sukai? Siapa pasangan presiden dan wakil presiden yang paling Anda sukai?&lt;br /&gt;      Banyak kalangan menganggap polling itu lebih cocok disebut polling elektronik, setidaknya polling digital, ketimbang polling faktual. Dengan teknologi SMS, maka SCTV tak perlu pakai populasi, tak butuh responden, tak harus menentukan sampel, kuisioner, wawancara langsung dan tanpa proses kodifikasi. Polling “nir-metode” ini murah. Pemilih hanya perlu menekan keypad, mengetik nomor urut partai, nomor urut presiden dan nomor urut pasangan presiden dan wakil presiden yang mereka sukai, lantas tinggal kirim ke 6666.&lt;br /&gt;      Beberapa detik kemudian simsalabim . . . partai dan presiden kesukaan sudah di depan mata. Lengkap dengan grafik dan prosentase. Biayanya receh, pulsa hanya Rp 350 untuk kartu prabayar dan Rp 250 untuk pascabayar. Polling SMS ini bisa diakses dari semua provider kartu seluler. Beda dengan polling non-pemberitaan yang biasanya berupa program kuis dan hiburan yang memakai pulsa premium Rp 2.000 per SMS.&lt;br /&gt;      Mekanisme teknisnya tak rumit-rumit amat. Saat SMS dikirim, satelit milik operator telepon seluler merespon pesan dan meneruskan pada server yang kemudian diolah dalam program aplikasi yang tersambung pada database. Dalam sistem aplikasi ini, data sudah berbentuk grafik dan prosentase, lengkap dengan akumulasinya dari menit ke menit. Berikutnya adalah proses seleksi. Sistem ini bekerja untuk memisahkan pesan masuk dari nomor user (pemilih) yang sama ke “tempat sampah.” Ini penting karena banyak sekali terdapat “pemilih” yang mengirim lebih dari satu kali untuk kategori partai maupun presiden tertentu. Malah pernah ada pemilih yang nekat mengirim sampai 70 kali.&lt;br /&gt;      Terakhir, data ditransformasikan lewat program aplikasi ke intranet untuk diteruskan ke pesawat televisi pemirsa secara realtime. Semuanya dikerjakan komputer, tanpa melibatkan unsur manusia. “Kami menyiapkannya selama tiga bulan. Program kami buat sendiri, pelan-pelan selama kurang lebih tiga tahun. Pertama kami memakainya untuk polling dalam kasus STPDN. Bagusnya, ini bukan pulsa premium, tapi pulsa normal. Jadi, menjawab pertanyaan Anda, secara bisnis tak ada keuntungan dari polling ini,” kata Dwi Wicaksono, manajer Teknologi Informasi SCTV.&lt;br /&gt;      Hasil polling di-update tiap hari. Tiap sesi rata-rata memakan tujuh hari penjaringan SMS. Kecuali untuk dua sesi pilihan presiden. Tahap kedua mengekstrak 10 calon presiden yang dipilih dengan suara terbanyak. Demikian pula sesi pasangan presiden dan wakil presiden yang butuh dua tahap, hingga tinggal lima pasang pada fase final. Kira-kira makan waktu sebulan untuk seluruh sesi polling. Hasilnya, pada Januari pemirsa bisa melihat Partai Keadilan Sejahtera (PKS) jadi partai yang paling disukai pemirsa SCTV dengan 145.259 SMS atau setara 45,62 % dari keseluruhan responden pengirim SMS sebanyak 318.422 orang. Hebatnya lagi, Hidayat Nur Wahid, presiden PKS, terpilih sebagai calon presiden yang paling disukai pemirsa SCTV dengan 55.014 SMS atau setara 27,26 % dari keseluruhan responden pengirim SMS sebanyak 228.351 orang. Sedang pasangan presiden dan wakil presiden yang paling disukai pemirsa SCTV memenangkan pasangan Surya Paloh dan Susilo BambangYudhoyono dengan 11.812 SMS atau setara 23,14 % dari keseluruhan responden pengirim SMS sebanyak 71.539 orang.&lt;br /&gt;      Debat pun merebak. Denny JA, direktur eksekutif Lembaga Survei Indonesia, sempat mengolok-olok “Hidayat Nur Wahid, Presiden SMS” dalam kolomnya di Media Indonesia, 22 Desember 2003 lalu. Ia menyoal pada metodologi yang digunakan. Sebab polling tanpa teknik sampling yang benar tak dapat dikatakan benar-benar mewakili publik. Menyesatkan.&lt;br /&gt;      Argumentasi pembanding datang dari Dr. Ibnu Hamad, direktur Institute for Democracy and Communication Research. Katanya, SCTV sebagai media, setidaknya telah menyediakan ruang bebas untuk mengagregasikan kepentingan politik publik. Ada fungsi sosialisasi, ada kanal dan ada partisipasi publik yang secara tak langsung merupakan bentuk pendidikan politik paling praktis. Tak perlu gusar, biarlah itu jadi bagian dari dinamika demokrasi.&lt;br /&gt;      “Intinya, kami hanya ingin melakukan sosialisasi politik. Saat KPU (Komisi Pemilihan Umum) mengumumkan partai peserta pemilu, nah kita memilih untuk pakai metode lain. Lewat polling ini kan partai bisa dikenal publik dengan cara tidak sengaja, karena ditonton tiap hari, “ kata R. Nurjaman, produser Liputan 6 SCTV.&lt;br /&gt;      Polling macam itu bukan hanya milik SCTV. Belakangan TV7 juga menyelenggarakan polling senada. Sedianya mereka akan memungut suara publik dari 10 Desember 2003 sampai 31 Maret 2004, periode yang cukup panjang. Entah kebetulan, entah memang realitas sosiologisnya sama, Hidayat Nur Wahid ada di peringkat pertama per 19 Desember 2003 lalu, dengan 14.853 SMS yang memilihnya, jauh melampaui Megawati di urutan keempat dengan hanya 4.233 pemilih. Situs TV7 di &lt;a target="_blank" href="http://www.tv7.co.id/"&gt;www.tv7.co.id&lt;/a&gt; pun ikut menyelenggarakan polling dengan hasil tak jauh beda. Hidayat Nur Wahid tetap memang dengan jumlah pemilih mencapai titik 45 %. Bedanya, kali ini peserta yang meng-klik internet sedikit sekali, cuma 3.717 orang.&lt;br /&gt;      Ada juga polling dari Metro TV, yang tempo hari disindir presiden Megawati di istana karena “memenangkan” Surya Paloh. Beda dengan dua stasiun tadi, Metro TV tak repot-repot mengerjakannya sendiri. Stasiun ini hanya merilis hasil polling Media Indonesia, koran yang juga dimiliki Surya Paloh.&lt;br /&gt;      Polling yang digelar Media Indonesia terasa konyol. Dalam edisi “Apa Partai Politik Pilihan Anda?”, koran tersebut menyediakan grand prize dan hadiah mingguan. Untuk mengikutinya, pembaca tinggal mengetik pada keypad telepon seluler dan kirim nomor urut partai politik pilihan ke nomor tujuan 2004. Satu SMS seharga satu suara. Poin pengiriman akan berpengaruh pada undian pemenang pada awal April 2004 nanti. Tak jelas, polling seperti ini, juga lainnya, untuk demokrasi atau bisnis? Jangan-jangan atas nama demokrasi untuk kepentingan bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--Taufik Andrie- kontributor majalah PANTAU.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25114427-114381723718308694?l=journeyhasbegin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journeyhasbegin.blogspot.com/feeds/114381723718308694/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25114427&amp;postID=114381723718308694' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25114427/posts/default/114381723718308694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25114427/posts/default/114381723718308694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journeyhasbegin.blogspot.com/2006/03/polling-simsalabim.html' title='Polling Simsalabim'/><author><name>TAUFIK  ANDRIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09308518494811761621</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25114427.post-114381576676604131</id><published>2006-03-31T21:34:00.000+07:00</published><updated>2006-03-31T21:36:08.913+07:00</updated><title type='text'>How Long Can You Go</title><content type='html'>Pantau, Februari 2004&lt;br /&gt;HIKAYAT PENGOBATAN&lt;br /&gt;How Long Can You Go&lt;br /&gt;Oleh : Taufik Andrie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang laki-laki 40 tahun bernama inisial Not, asal Tangerang pernah mengirim surat keluhan pada seksolog di situs &lt;a target="_blank" href="http://www.klinikpria.com./”Saya"&gt;http://www.klinikpria.com./”Saya&lt;/a&gt; baru dapat ejakulasi rata-rata 20-30 menit setelah penetrasi,” tulisnya. Alih-alih senang, pria ini malah kasihan pada sang istri yang kerap kesakitan ketimbang merasakan nikmatnya berhubungan seks.&lt;br /&gt;Jadi pertanyaan besar, berapa lama waktu standar ejakulasi laki-laki, khususnya di Indonesia, jika 30 menit dianggap kelamaan? Tak ada angka pasti. Secara faktual, tak pernah ditemukan data statistik maupun hasil penelitian soal ini.&lt;br /&gt;Itu juga yang jadi keluhan Doktor Bambang Sukamto DMSH, seksolog-cum-kepala program On Clinic Indonesia -- lembaga pengobatan impotensi dan ejakulasi yang tersebar di Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung, Medan, Makassar hingga Batam. “Sulit menemukan responden yang mau diteliti. Laki-laki kan tak mau jujur, soal seberapa jauh kemampuan seksual mereka. Lagipula menentukan angka standar memang sulit, harus dilihat kasus per kasus. Termasuk, pada gangguan-gangguan macam impotensi dan ejakulasi dini.”&lt;br /&gt;Beda dengan Indonesia, di Amerika seorang laki-laki rata-rata mengalami ejakulasi selama 12 menit. Rilis ini dikeluarkan &lt;a target="_blank" href="http://www.apol.net/"&gt;http://www.apol.net/&lt;/a&gt;, sebuah situs milik komunitas keturunan Portugis-Amerika. Angka tersebut juga dihitung sebagai waktu rata-rata bagi perempuan (Amerika) dalam mencapai orgasme. Tentu tanpa gejala real ejakulasi layaknya laki-laki. Teorinya, ejakulasi dihitung sejak penetrasi dilakukan hingga keluarnya cairan semen dan sperma yang menandai tuntasnya kerja seksual seorang laki-laki.&lt;br /&gt;Saat diminta mengira-ngira, Soekamto mengatakan, “Untuk orang Indonesia, untuk standar normalnya atau umumnya waktu ejakulasi minimal tiga sampai tujuh menit. Tiga menit itu minimal, karena jika sudah dibawah tiga menit kategorinya sudah ejakulasi dini. Kadang ada juga orang yang bisa sampai 10 menit, beberapa malah, mengaku, mencapai angka 15-25 menit. Tapi ini tidak bisa digeneralisir.”&lt;br /&gt;Majalah waralaba yang berbasis di Inggris, FHM (For Him Magazine), pada edisi November 2003, menyebutkan, pria-pria Austria mampu ejakulasi hingga 31 menit. Sedang rata-rata orang Indonesia hanya kuat bertahan selama 25 menit, dengan rata-rata keseluruhan mencapai 26 menit. Perempuannya? Mereka rata-rata mencapai 33 menit, lebih pendek 10 menit dari perempuan asal Italia yang bisa mencapai 45 menit itu. Riset ini dikerjakan secara random pada 75.000 pengguna internet dari pelbagai negara.&lt;br /&gt;Angka-angka itu mungkin tak bicara apa-apa jika industri obat kuat tak merajalela belakangan ini. Indikasi keperkasaan laki-laki memang tak sepenuhnya ditentukan dari lama tidaknya ejakulasi. Namun jika data-data penjualan obat kuat macam viagra melambung hingga US$ 1,7 milyar pada 2002 lalu, maka indikasi di atas jadi terkesan wajar.&lt;br /&gt;Jika laki-laki Indonesia dengan kategori normal saja, dengan kisaran waktu ejakulasi normal antara tiga menit (titik terendah) sampai 25 menit (titik tertinggi) masih butuh obat kuat, lantas bagaimana yang di bawahnya? Selama berdiri sejak 1996 sampai Desember 2003 lalu, On Clinic Indonesia mencatat keluhan lebih dari 60.000 laki-laki dengan proporsi impotensi 50% dan ejakulasi dini 50%. Dengan rentang usia antara di atas 40 tahun untuk impotensi dan di bawah 40 tahun. Sebagian bahkan pasangan muda untuk ejakulasi dini.&lt;br /&gt;Lain lagi dengan durasi ereksi. Rentang ereksi dihitung sejak penis berdiri, mengalami fase pembesaran, pengisian darah secara optimal pada pembuluh, posisi tegak lurus, fase pembesaran optimal saat ejakulasi dan terakhir fase pengenduran. Seksolog W.B Saunder dari The Kinsey Institute for Research in Sex, Gender and Reproduction dalam Sexual Behavior in the Human Male pernah mempublikasikan penelitian soal ini. Hasilnya, dalam rentang usia antara 15 hingga 70 tahun terdapat durasi yang berbeda secara signifikan. Usia produktif dihitung dari; 21-25 tahun, 26-30 tahun, 31-35 tahun, 36-40 tahun dan 41-45 tahun mampu ereksi masing-masing 54,43 menit; 53,09 menit; 47,24 menit; 40,62 menit dan 3,07 menit. Rentang usia dibawah 21 tahun dan di atas 45 tahun berada dalam radius antara -di bawah 40-12 menit dan 21-7 menit pada usia diatas 50 tahun.&lt;br /&gt;Itu baru durasi ereksi, bagaimana dengan kecepatan ejakulasi dan durasi orgasme? Masih dalam riset yang sama, saat ejakulasi kecepatan sperma disinyalir mencapai angka rata-rata 45 km/jam, kira-kira lebih cepat dari mobil remote kontrol Anda atau laju kendaraan saat jalanan macet di Jakarta. Volume ejakulasi mencapai 4,0 cc, sekitar satu sendok teh dengan durasi orgasme rata-rata mencapai 3,0-5,0 detik. Perempuan bahkan bisa lebih lama hingga 5,0-8,0 detik.&lt;br /&gt;Di Indonesia jangan harap ada penelitian macam ini. Data-data statistik hanya dimiliki klinik-klinik pengobatan dan rumah sakit dengan tingkat kerahasiaan yang terjaga. Mungkin takut reputasi keperkasaan laki-laki jadi anjlok atau ketiadaan data statistik memang jadi bagian dari standar ilmiah kedokteran.&lt;br /&gt;Alih-alih memahami seks dengan benar, sebagian kaum laki-laki kita acap sembunyi di belakang gegap gempita mitos. Dari jasa pembesaran penis a la Mak Erot yang tersohor, obat kuat Cina, ramuan perkasa India, produk suplemen khusus laki-laki macam Irex hingga produk impor Viagra. Hal-hal yang justru mengaburkan essensi seks dengan segenap pengetahuan, kesehatan, seni dan keindahan serta kenikmatan.&lt;br /&gt;Untuk ini Bambang Sukamto berkomentar, “Sebetulnya hanya sugesti saja. Masyarakat kita memang kurang memahami pengetahuan seks dengan baik. Tidak mengerti kondisi fisik dan psikologis pasangan, padahal tujuan seks bukan cuma rekreasi, tapi juga prokreasi (melanjutkan keturuan), relasi (hubungan kasih sayang) dan institusi (hubungan keluarga). Dan lama tidaknya ejakulasi ini sebenernya bukan masalah besar. Sayangnya, soal-soal macam ini tak banyak diperhatikan.” ● -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Taufik Andrie-- kontributor majalah PANTAU.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25114427-114381576676604131?l=journeyhasbegin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journeyhasbegin.blogspot.com/feeds/114381576676604131/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25114427&amp;postID=114381576676604131' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25114427/posts/default/114381576676604131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25114427/posts/default/114381576676604131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journeyhasbegin.blogspot.com/2006/03/how-long-can-you-go.html' title='How Long Can You Go'/><author><name>TAUFIK  ANDRIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09308518494811761621</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25114427.post-114380056455888592</id><published>2006-03-31T17:17:00.000+07:00</published><updated>2006-03-31T17:22:46.373+07:00</updated><title type='text'>Taufik bin Abdul Halim</title><content type='html'>February 1, 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taufik bin Abdul Halim&lt;br /&gt;Jejak petualangan terpidana kasus teror bom di Jakarta.&lt;br /&gt;Cerita oleh Agus Sopian&lt;br /&gt;Reportase Bersama Taufik Andrie, November 2003 – 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBUAH DAIHATSU MERAH HATI MELUNCUR pelan, menjinakkan keramaian lalu lintas kawasan Senen, Jakarta. Di sekitar Kwini, tak jauh dari toko buku Gunung Agung, Abbas menginjak pedal rem. Tiga orang turun dari kendaraan. Mereka Dany, Agung, dan Abdullah. Dany berjalan duluan setelah menyambar kantong plastik dari tangan Agung.Sampai di emplasemen Atrium Plaza, mereka berpencar, masing-masing menuju tiang-tiang beton. Ada lima tiang di situ. Dany berhenti di tiang kedua dari gerbang masuk. Abdullah berada di sisi kiri di tiang jauh pertama dekat lobi, mengawasi pintu keluar. Jarak mereka sekitar lima meter. Sedangkan Agung mengambil posisi di tiang keempat, berjarak sekitar 10 meter dari Dany –hampir tepat berhadapan dengan pintu masuk yang terpisahkan oleh ruas lintasan taksi.Dari balik kacamata minusnya, sejenak Dany memeriksa keadaan. Ditaruhnya kantong plastik itu di atas conblock, beberapa centimeter dari kaki kanannya. Seraya menunggu komando, dia menyandarkan punggungnya ke tiang beton. Kaki kiri ditekuk, bagian tumitnya menempel ke dinding. Badannya miring ke kanan tepat menghadap pintu masuk utama. Tampak olehnya gerai Pizza Hut yang mulai surut pengunjung.Selang beberapa waktu, Abbas melintas di hadapan Dany dan memberi isyarat dengan gelengan kepala. Dany tak melihat. Demikian pula isyarat melalui gerak tangan dari Abdullah yang mengekor Abbas. Semuanya berlangsung serbacepat.Lalu-lalang orang yang keluar-masuk Atrium mulai berkurang. Dany melirik jam tangan. Masih ada waktu, pikirnya. Matanya kembali liar memeriksa keadaan. Ketegangan mulai merayapi sekujur tubuhnya. Dia kemudian mendekati boks telepon umum, pura-pura sedang menunggu giliran.Tiba-tiba saja, blaaarrr ...Tubuh Dany terguncang dan mental. Lampu-lampu mati. Sejumlah plafon langit-langit terkelupas dan sebagian di antaranya rontok berikut kap lampu-lampunya. Pecahan kaca, terutama dari gerai Pizza Hut, berceceran di lantai. Dinding-dinding kayu pelapis tembok jebol. Orang-orang dari dalam Atrium Plaza menghambur keluar. Jerit histeris massa membahana. Chaos.Esoknya, Kamis 2 Agustus 2001, hampir seluruh koran Jakarta memberitakan ledakan itu, yang ditenggarai berasal dari sebuah bom. Disebutkan, ledakan sedikitnya mencederai enam orang korban. Dany termasuk salah satu yang disebut. Lainnya, Suryadi, Windu Pratiwi, Anita Abdul Aziz, M. Darodjat, dan Yudi Mila Purnomo. Empat nama pertama pengunjung mal, sedang Purnomo sopir taksi. Suryadi, M. Darodjat, dan Dany segera dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat karena luka-luka serius. Dany bahkan harus diamputasi kaki kanannya malam itu juga.Dany hanya “menikmati” status korban dalam hitungan hari. Kurang dari seminggu, dia sudah dicurigai polisi. “Bom meledak terlalu dini. Ada kemungkinan salah satu dari korban adalah pelaku,” kata Brigadir Jenderal M. Hamim Soeriaamidjaja, kepala Pusat Laboratorium Forensik.Identitas Dany pun mengundang kecurigaan. Sekali waktu dia mengatakan dirinya bernama “Doni,” lain saat “Dodi Mulia.” Tak sedikit pula wartawan yang menulis “Yudi Mulia,” yang agaknya tertukar dengan identitas korban sopir taksi itu.Kecurigaan polisi bukan tanpa dasar. Dari paket barang bukti yang ada, mereka menemukan sehelai kartu penduduk bernomor seri 09.5304.23573.7019, yang dikeluarkan Kelurahan Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta. Di sana tertera sebuah nama: Dany. Soalnya adalah kenapa si empunya nama menyebut dirinya “Doni” atau “Dodi” itu? Apa sesungguhnya yang dia sembunyikan? Komisaris Besar Adang Rochjana, kepala Direktorat Reserse Kepolisian Daerah Metro Jaya, tak hanya meragukan ucapan Dany, tapi juga kartu penduduk milik Dany. Rochjana bilang, bisa saja identitas itu bukan nama asli. “Nama alias kan kadang-kadang banyak.” Dan Rochjana benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DANY BERASAL DARI MALAYSIA. DALAM kartu penduduknya, Identity Card A. 2997604, dia tercatat tinggal di Jalan Intan, Kluang, Johor. Lahir 21 Maret 1975, dia bernama lengkap Taufik bin Abdul Halim.Dany anak kedua dari tujuh bersaudara. Seperti halnya kebanyakan nama muslim tradisional, Dany dan saudara-saudaranya tak memiliki nama referensi kedua, kecuali si bungsu, Muhammad Iqbal. Si sulung bernama Mariah, diikuti Dany, kemudian berturut-turut Faisal, Mona, Aisyah, dan Zahra. Di belakang nama mereka diterakan “bin” untuk pria dan “binti” untuk perempuan, yang diikuti nama ayah.Abdul Halim, ayah mereka, pensiunan pegawai pemerintah sejak 1990-an, paling tidak sejak Dany beranjak remaja. Kegiatan Halim tak banyak. Dia biasanya mengasuh si kecil. Pada hari-hari tertentu, taruhlah saat perjamuan keluarga, Halim jadi koki. “Beliau lebih pintar masak daripada ibu,” kata Dany.Di mata Hamidon Abdullah, tetangga Dany, Halim seorang yang tegas dalam mendidik anak-anaknya. Sebagaimana dikutip Najibah Hassan dan Habibah Omar dari Utusan Malaysia, Abdullah mengatakan bahwa seluruh anak Halim tak pernah lepas dari kesantunan. Dany, misalnya, selalu berucap salam tatkala berpapasan dengan orang selingkungan yang dikenalnya. “Dany taat kepada perintah orang tua.”Kebalikan dari Halim, ibu mereka, Juliah, seorang lembut hati. Dia mengajarkan Dany kesabaran dan ketenangan dalam menyikapi segala sesuatu. Barangkali karena pengaruh kuat ibunya, Dany terkenal pendiam di kalangan teman-temannya. Salehudin, teman remaja Dany, mengungkapkan bahwa saking pendiamnya, Dany tak punya sahabat karib. Dia gemar menyendiri, seolah tak acuh pada keadaan sekitar. Tapi jangan tanya untuk urusan agama, telinga Dany bisa berdiri seketika. Dia sedia berdebat kapan saja.Kesamaan paling mendasar dari pasangan Halim-Juliah adalah ketaatan beribadah. Hal ini ditularkan pada anak-anak mereka sejak dini, antara lain dengan selalu mengingatkan untuk salat saat datang waktunya dan belajar mengaji Alquran selepas Maghrib.Untuk pendidikan dasar, sekolah agama jadi pilihan mereka. Dany sendiri, begitu sampai pada usia belajar formal, dimasukkan ke sekolah agama di Jalan Mengkibul, Kluang, sekitar 10 kilometer dari rumah. Tak ada yang istimewa dari prestasi belajar Dany kecil. Setidaknya begitulah menurut Dany.Tahun 1988, dia menamatkan pendidikan dasarnya, dan meneruskan ke sekolah tinggi Maahad Johor di Johor Bahru. Sekolah tinggi ini setara dengan paket sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas di Indonesia.Segera setelah lulus pada 1993, Dany berangkat ke Pakistan untuk lebih memperdalam ilmu agama. Sebelum masuk Jamiat Anwarul Qur’an, Karachi, dia sempat singgah di Tajwidul Qur’an, Shahjahanabad. Dari keduanya, dia mendalami ilmu fikih dan tafsir, selain bahasa Arab. “Waktu di sana,” ujar Dany dalam suatu perbincangan, “saya banyak belajar agama. Saya merasa waktu di sekolah dasar belajar agama kurang. Kurang senang baca-baca buku.”Di Pakistan, sebuah momentum menggiring Dany ke sebuah perubahan sikap. Saat itu, dia terserang malaria dan digotong ke sebuah rumah sakit militer di Muzaffarabad, kawasan utara Islamabad. Di sana dia melihat banyak serdadu dan milisi yang tewas dan terluka akibat perang. Mereka baru pulang dari Afghanistan. “Itulah titik perubahan dirinya,” demikian Utusan Malaysia.Keinginannya untuk melihat dari dekat apa yang terjadi di medan perang menggerakkan dirinya untuk menyeberangi perbatasan. Untuk kali pertama, pada 1994 Dany menginjakkan kaki di Afghanistan, yang sedang mendidih oleh perang saudara menyusul kejatuhan rezim boneka Uni Soviet di bawah pimpinan Najibullah dua tahun sebelumnya. Saat itu dua kekuatan mujahidin, kubu Burhannudin Rabbani dan kubu Gulbudin Hekmatyar, saling memperebutkan Kabul atas nama hereditas –masalah yang selama berabad-abad mewarnai perebutan kekuasaan di Afghanistan.Rabbani seorang akademikus. Dia diangkat jadi presiden pada 1992 menggantikan Najibullah. Di masa pergolakan, Rabbani memimpin Jamiat al-Islami, organisasi mujahidin yang dikenal moderat. Dia berasal dari suku Tajik, suku kedua terbesar setelah Pashtun. Hekmatyar seorang “malaikat perang” didikan militer Pakistan dan Amerika Serikat. Dia mengendalikan Hizbi al-Islami, organisasi mujahidin yang menghimpun anak-anak muda terpelajar. Dia berasal dari suku Pashtun.Untuk meredakan perang, Rabbani merangkul Ahmad Syah Massoud, pemuka suku Tajik, dan menempatkannya sebagai menteri pertahanan. Rabbani juga menawari Hekmatyar untuk duduk di pemerintahan koalisi. Tawaran Rabbani mendapat sambutan. Hekmatyar jadi perdana menteri pada Maret 1993. Koalisi ini tak bertahan lama. Januari 1994 Hekmatyar kembali ke gurun. Kali ini ditemani Abdul Rashed Dostum, jenderal didikan militer Soviet yang beraliansi dengan rezim boneka Uni Soviet di masa lalu. Keduanya membangun lagi milisi Hizbi al-Islami di bawah sponsor Pakistan dan Amerika. Banyak pelajar Pakistan direkrutnya. Mereka memosisikan benteng pertahananannya di Jalalabad. Dari sana Hekmatyar menggempur kota Kabul, dan mendapat julukan “Si Pemusnah Kabul.”Dany mengatakan, dirinya menyeberang ke Afghanistan melalui Peshawar dan bergabung dengan pelajar-pelajar lain di Jalalabad. Para pelajar asal Malaysia umumnya dikoordinasikan oleh organisasi massa terbatas bernama Massa-Parkindo.Sebelum turun ke medan tempur, Dany lebih dulu masuk muaskar (pusat pelatihan militer) Taibah di Konark selama dua minggu. Di sini dia hanya melakukan pengenalan taktik militer dan memompa semangat. Pelatihan yang terbilang serius dijalani Dany di muaskar Khost, daerah penghubung antara Jalalabad dan Kandahar, provinsi kelahiran Taliban.Seingatnya, dia memasuki kota tersebut pada Agustus 1995. Selama tiga bulan dia mempelajari teknik-teknik kemiliteran, mulai menembak dengan senjata api AK-47, melempar mortir, hingga membuat bom sederhana. Tuntas di sini, dia berangkat menuju muaskar di Khalden dan belajar beragam persenjataan mesin, selain taktik militer antitank. Muaskar ini menyimpan banyak cerita, antara lain disebut-sebut sempat jadi pusat latihan sejumlah terpidana kasus terorisme seperti Ahmed Ressam dan Mukhlas.Dany hanya beberapa bulan berada di garis depan. Peperangan pelan-pelan menyurut segera setelah Gulbudin Hekmatyar menerima tawaran Burhannudin Rabbani untuk melakukan gencatan senjata pada 1996. Hekmatyar kembali jadi perdana menteri. Di atas kertas, mestinya situasi ini mendinginkan pergolakan. Semestinya pula pemerintahan Rabbani lebih solid.Lain yang tersurat lain di lapangan. Para pendukung Hekmatyar kecewa dan marah. Mereka menuding Hekmatyar hanya mencari tahta dan bukan berjuang untuk keyakinan politiknya yang berlandaskan syariat Islam, seperti yang pernah didengung-dengungkannya. Hizbi al-Islam berantakan. Sebagian eksponennya menyeberang ke Taliban, mengikuti jejak pemimpin spiritual organisasi itu Maulani Younus Khalis. Osama bin Ladin pun meninggalkan Jalalabad dan pergi ke Kandahar, markas besar Taliban yang kini sudah lebih bertaring. Hekmatyar makin terkucil ketika Pakistan mengalihkan dukungan kepada Taliban, menguntit langkah Amerika.Di tingkat akar rumput, para pelajar dari berbagai negara pulang ke negeri masing-masing. Demikian pula Dany. Dia tak menyaksikan dari dekat kejatuhan pemerintahan koalisi Rabbani-Hekmatyar pada 27 September 1996 setelah Kabul dibombardir milisi Taliban. Sementara Rabbani, Hekmatyar, dan Jenderal Dostum menyingkir ke pegunungan, pada Oktober 1996 Dany mendarat di Kuala Lumpur setelah terbang dari Karachi, Pakistan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MALAYSIA SUDAH DI MATA. SIAL BUAT Dany, begitu turun dari pesawat, dia langsung digiring Special Branch (polisi rahasia) Kerajaan Malaysia. Dany segera berhadapan dengan Internal Security Act (ISA), undang-undang khusus keamanan dalam negeri yang membolehkan aparat berwajib menahan siapa saja yang dicurigai tanpa melewati prosedur resmi peradilan.Sejumlah media Malaysia melaporkan, penangkapan Dany lebih didasarkan pada laporan interpol Pakistan, yang menyatakan pihaknya pernah menangkap seorang Malaysia yang menyeberangi perbatasan Pakistan tanpa dokumen. Polisi Malaysia mengidentifikasi, tahanan itu tak lain dari Dany. Dia sempat kabur pada 1995 dari Afghanistan karena tak tahan oleh kerasnya pelatihan militer di sana. Seluruh dokumen ditinggalkan Dany di muaskar.Dany membantah soal itu. “Taklah, saya tak melarikan diri.”Sampai kini dia tak pernah tahu apa sebenarnya tuduhan aparat keamanan di sana berkenaan dengan penahanannya. Dany pun enggan mengatakan di mana dirinya ditahan. “Itu penjara rahasia,” kata Dany, seraya memberi petunjuk bahwa tempat tersebut pernah digunakan untuk menahan orang-orang partai komunis ketika pemerintah Malaysia melakukan gerakan pembersihan politik pada 1960-an.“Air Molek?”Dany mengangkat bahu. Dia tetap menolak menyebutkan nama. “Penjara itu di luar Kuala Lumpur.”Bisa jadi Air Molek. Penjara ini terletak di ring luar Johor, di wilayah Melaka. Bagi sejumlah aktivis, Air Molek penjara menyeramkan. “Dengar dari cakap orang, tahanan suka dibogel,” kata Vivian Chow, seorang wartawan Malaysia. Dibogel artinya ditelanjangi. Untungnya, perlakuan seperti itu tak pernah dialami Dany. Lebih beruntung lagi, pada Desember 1996 dia dilepas.Beberapa bulan kemudian Dany menjalani kursus prauniversitas di daerah Kelana Jaya. Dia bersiap-siap kuliah. Tahun 1997, Dany masuk Universitas Teknologi Mara di Shah Alam, mengambil jurusan survei dan perencanaan arsitektur.Kampus tak membuat Dany jadi akademikus. Kegiatan sehari-hari tak hanya menghadiri diskusi-diskusi ilmiah, tapi juga mengikuti tabligh-tabligh akbar, terutama yang digelar sebuah organisasi rahasia, Kumpulan Mujahidin Malaysia (KMM). Dany mengatakan bahwa dirinya juga pernah menghadiri pengajian yang menampilkan penceramah Hambali, tersangka terorisme yang tempo hari ditangkap di Thailand dan kabarnya kini berada dalam tahanan Amerika.Hambali lahir di Cianjur 4 April 1964 dengan nama Cecep Nurjaman. Pada 1983, saat berusia 19 tahun, dia pergi ke Malaysia untuk bekerja, sampai kemudian terbit niatnya untuk berangkat ke Afghanistan dan bergabung dengan kaum mujahidin selama beberapa tahun. Asia Pacific Center for Security Studies –organisasi riset yang digagas Bill Clinton pada 30 September 1994– menyebutkan bahwa sekembalinya ke Malaysia, Hambali bergabung dengan sejumlah veteran perang Afghanistan dan ikut mendirikan Konsojaya SDN BHD, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang ekspor minyak kelapa sawit.Hambali masuk jajaran dewan direksi yang dipimpin Wali Khan Amin Shah, tersangka pemboman Philippines Airlines 747-200 dalam kasus Oplan Bojinka pada Desember 1994. Amin Shah sendiri ditenggarai punya hubungan dekat dengan Muhammad Jamal Khalifa, sepupu Osama bin Ladin, dalam aktivitas organisasi International Islamic Relief Organization yang berpusat di Zamboanga City, Filipina.Bersama Hambali –yang selama di Malaysia menggunakan nama Riduan Isamuddin– dalam dewan direksi itu duduk pula Mohammad Iqbal Abdurrahman, karib Hambali selama berada di Malaysia dan Afghanistan. Abdurrahman, yang juga dikenal dengan nama Fikiruddin Muqti, disebut-sebut sebagai pemimpin spiritual di tubuh KMM. Siapa KMM? Organisasi ini didirikan pada 12 Oktober 1995 oleh Zainon Ismail, veteran perang Afghanistan. Lima tahun kemudian, KMM dipimpin Nik Adli Nik Aziz, yang juga veteran perang Afghanistan, anak kandung Nik Aziz Nik Mat, tokoh kunci Partai Islam (PAS) Malaysia.Desas-desus beredar, kehadiran Nik Aziz di tubuh KMM jadi sasaran empuk pemerintah Malaysia dalam melancarkan spin doctor untuk meredam pengaruh PAS. Seperti itukah? Kemungkinan selalu ada. Tapi KMM pun tak bisa mengelak dari sangkaan bahwa terdapat indikasi kalau organisasi tersebut cenderung menggunakan kekerasan dalam mencapai tujuan ideologisnya. Salah satu di antaranya adalah keterlibatan Yazid Sufaat, seorang pensiunan militer, dalam aksi perampokan Southern Bank di Petaling Jaya. Sufaat anggota senior KMM, ditahan pada 2001 di bawah ISA.Simon Elegant dalam “Getting Radical” di majalah Time menambahkan, perilaku keras KMM ditunjukkan oleh dugaan keterlibatan mereka dalam sejumlah pemboman gereja. Beberapa anggota KMM yang ditangkap juga dijerat pasal-pasal kepemilikan senjata api ilegal. Dari berbagai kasus yang muncul sampai akhir 2001, sedikitnya 23 anggota KMM ditahan di bawah ISA. Beberapa di antara mereka dianggap punya kaitan dengan PAS. Katakan saja Hazmi Ishak, eks pelajar di Pakistan pada kurun 1990-1995 dan tercatat pernah ikut pelatihan militer di Afghanistan.Dalam KMM, nama Dany tak tercatat, baik sebagai anggota maupun pengurus. Namun, jika namanya terus dikait-kaitkan dengan KMM, itu barangkali lebih pada jejaknya di masa lalu sebagai sesama eks veteran perang Afghanistan. Menurut data kepolisian Malaysia, dalam organisasi tersebut terdapat nama Zulkifli bin Abdul Khir alias Musa, ketua KMM Selangor. Dia kini jadi buronan polisi Malaysia dengan dugaan mengotaki pembunuhan tokoh Kristen Malaysia, Joe Fernandez. Dan siapa Zulkifli? Dia suami Mariah, kakak sulung Dany. Zulkifli pula yang mengajak Dany mengikuti sejumlah aktivitas dalam tubuh KMM.Dany enggan mengomentari sepak-terjang Zulkifly. Begitu pula Sufaat, yang diisukan sebagai salah seorang mentor Dany. Pada kesempatan lain, dia membantah pernah menerima uang kiriman dari Sufaat saat Dany berada di Jakarta. Yang tak dibantah olehnya adalah kepergiannya untuk berjihad di Ambon, ditemani beberapa aktivis KMM. “Saya masuk lewat Hambali,” kata Dany.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KONFLIK AMBON, DENGAN SENTIMEN AGAMA sebagai bahan bakarnya, berlangsung sejak Januari 1999 dan sempat mendingin selama beberapa bulan. Pada Juli 1999 konflik kembali memanas, dan mencapai titik didih pada Desember 1999. Selama beberapa bulan warga Ambon hidup dalam suasana tenang sampai akhirnya konflik lagi-lagi meledak dalam skala masif sejak April 2000.Bukan sekadar perang mulut atau saling lempar batu, mereka yang bertikai berada dalam situasi perang sungguhan. Ada serdadu, senjata api, mortir, bom, barikade, benteng-benteng pertahanan, stategi, propaganda perang, taktik militer. Pasukan merah yang merepresentasikan aktivis kristiani dan pasukan putih yang mewakili aktivis muslim, berhadapan secara vis a vis dan hanya mengenal dua pilihan untuk keluar dari konflik: hidup atau mati.Malangnya lagi, baik pasukan merah maupun putih menuding tindakan militer Indonesia bias, bahkan cenderung berpihak ke salah satu kubu. Pasukan merah menuding Batalyon 733 Pattimura berada di pihak muslim, sedang pasukan putih menuding Batalyon Gabungan berada di pihak kristiani. Keadaan semacam ini tak urung membuat situasi tambah runyam dan peperangan makin meluas ke berbagai kawasan.Masariku Network, sebuah jaringan informasi yang dikelola aktivis kristiani mencatat, perang umumnya berlangsung di sepanjang garis pantai Teluk Ambon mulai Tawiri, Tantui, Galela, sampai Negeri Lama. Sebuah kampung yang semula rukun dan tenang bisa hancur seketika, menyisakan puing-puing dan abu dengan mayat-mayat gosong di dalamnya. Warga yang ketakutan dan frustasi menyingkir ke daerah-daerah yang dirasa aman, seperti daerah Mahila, Hutumuri, Toisaku, atau pedalaman Passo.Di sejumlah wilayah Indonesia, aktivis muslim berkeliling dari satu daerah ke daerah lain untuk mengabarkan keadaan Ambon. Beberapa dari mereka membawa rekaman video untuk ditonton beramai-ramai. Acara biasanya dipuncaki oleh diskusi dan pendaftaran anggota mujahid –sebutan buat mereka yang rela membela Islam dengan berperang menurut syariat Islam– untuk berangkat ke Ambon. Konstelasi senada juga berlangsung di Malaysia. Aktivis muslim bahkan menyebar ke sejumlah kampus dan pusat-pusat intelektualitas, termasuk ke tempat Dany kuliah: Universitas Teknologi Mara.Juni 2000, beberapa bulan setelah lulus dan menyandang gelar insinyur, Dany berkumpul bersama sembilan temannya dari berbagai daerah. Mereka adalah Yasin dan Saad dari Selangor, Lukman dari Perak, Ilham dan Hidayat dari Kuala Lumpur, Ali dari Pahang, serta Rusli, Usman, dan Ismail dari Terengganu. Mereka berbulat tekad untuk berangkat ke Ambon melalui jalur laut.Malam hari sebuah speedboat bermesin satu dengan panjang sekitar lima atau enam meter meluncur dari Sabah, Malaysia, dalam kecepatan tinggi. Dany dan kawan-kawan berada di dalamnya. Yasin memimpin rombongan.Di pelabuhan Nunukan seorang tak dikenal menjemput dan menginapkan mereka di sebuah hotel. Dany tak hafal nama hotel itu. Dia hanya ingat selama tiga hari dua malam berada di sana, hingga akhirnya bisa memasuki sebuah pelabuhan kecil di Sulawesi utara setelah melewati perairan Toli-toli. Dari sini mereka berangkat ke Manado dengan menggunakan bus.Dany berusaha masuk ke Poso yang sedang memanas. Tak jadi. Semua jalan menuju ke sana sudah terblokir, selain susahnya kendaraan. “Lagi pula,” ungkap Dany, “niat awal kami kan memang ke Maluku.”Maka Dany bersama kawan-kawannya pun terbang ke Ternate dengan sebuah pesawat Fokker kecil yang muat 30-40 orang. “Kami disambut baik masyarakat tempatan (setempat),” ungkap Dany, mengomentari daerah persinggahan awal di Maluku. “Kami langsung gabung dengan masyarakat tempatan itu.”Dany tak punya buku harian yang mendeskripsikan pengalamannya, termasuk kegiatan hari pertamanya di Maluku. Tapi dia ingat bahwa pada hari-hari awal dia lebih sering berada di rumah sakit darurat yang dibangun warga Ternate. Hatinya trenyuh begitu melihat sejumlah korban bergeletakkan dengan tubuh tertembus peluru.“Masya Allah, itu kan AK,” Dany memekik ketika seorang dokter memperlihatkan butiran timah yang menancap pada seorang pasien.“Benar, itu AK?”“Ya. Itu peluru AK-47.”Dadanya bergemuruh. Dany merasa, kehadiran senjata otomatis di pihak kristiani menempatkan muslim pada posisi lemah. “Muslim pakainya cuma senjata rakitan, bagaimana mereka menahan serangan senjata otomatis macam itu.”Di medan pertempuran dia kian terkejut. Pangkalnya, selain AK-47 dan sejumlah senjata otomatis lain, pasukan merah juga membawa peluncur roket antitank buatan Prancis. “Berapa itu harganya? Dapat dari mana mereka? Saat perang lawan mereka, kita kewalahan. Bagaimana tidak, mereka tembakannya sudah rentetan, sedang kita pelurunya keluar satu-satu. Mana senjata rakitan pula.”Sadar kalah persenjataan, Dany dan kawan-kawan sering memilih menghindari pertempuran terbuka, atau malahan bersembunyi rapat-rapat. Dany menceritakan pengalamannya ketika memasuki kampung Tulehu. Belum lagi bertemu penduduk, trang … trang … trang …, rentetan senjata otomatis terdengar dari moncong senapan, dan peluru bersliweran di sekitar Dany. Dia dan kawan-kawannya bergerak zig-zag dan segera mengambil posisi aman dengan bersembunyi di balik dinding-dinding kayu. Senjata sudah dikokang untuk membalas. Dia baru sadar kalau dinding kayu tak cukup mampu melindunginya untuk membalas serangan. Dinding itu dilubangi satu per satu hingga Dany akhirnya memilih tiarap. “Ya ... sembunyi saja.”Bukan sekali-dua dia terkepung. Saat berada di kampung Moti, misalnya, berjam-jam Dany dan kawan-kawannya tak bisa berbuat banyak selain merapatkan kepala dengan tanah, menghindari rentetan tembakan, mulai pukul 15.00 sampai pukul 23.00. Kepungan peluru senjata otomatis terlama dialami Dany di Batu Merah. Pasukan merah bersama militer Indonesia yang promereka, memuntahkan peluru sejak petang hari dan baru berhenti pada pagi hari esoknya. Penyerangan ini berlangsung dari dua arah, Kebun Cengkih dan Lapangan Mardika. Kelompok Dany terjepit dan tak bisa membalas serangan. “Senapan mesin datang berganti-ganti.”Dany dan satuannya sengaja datang ke sana setelah mendengar informasi dari warga yang mengatakan bakal ada serangan terhadap Batu Merah. Sejak siang Dany sudah duduk bersama penduduk. Dia percaya, aparat militer propasukan putih akan mampu menghadang gerakan penyerbu. “Rupanya, aparat siluman kita dihabisi,” kata Dany mengacu pada anggota militer yang berada di pihak pasukan putih.Serangan itu membuat pasukan di Batu Merah kalang-kabut. Dari satu kios ke kios lain, Dany dan kawan-kawan lintang pukang menghindari kejaran peluru yang datang dari kampung sebelah atas. Mereka berusaha mencapai kendaraan di ujung pasar. Di tengah hujan peluru, mereka melarikan mobil dengan kesetanan menuju arah pantai. Sejumlah peluru tak urung menembusi mobil.“Untung tak kena tangki,” kata Dany. “Ada marinir yang melihat kami ditembaki di jalan-jalan. Mereka diam saja. Banyak yang mati waktu itu. Saya paling ingat ada ibu-ibu yang mau berangkat haji, mati tertembak. Kasihan.”Kinerja buruk militer Indonesia melahirkan frustasi di kalangan warga Ambon. Dan ketika rasa frustasi itu memuncak, mereka memutuskan untuk menjebol gudang peralatan militer milik Tentara Nasional Indonesia (TNI), nama institusi militer Indonesia, di daerah Tantui. Dany datang ke sana, tapi senjata rampasan sudah habis dibagi-bagikan penduduk. Dany akhirnya mengitari kota Ambon. Di lingkaran luar, Dany mendapati perajin senjata rakitan yang sudah bisa membikin senapan semiotomatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIKA DANY TIBA DI MALUKU, PASUKAN putih sedang gundah. Mereka baru saja kehilangan kecamatan Tobelo, wilayah yang secara tradisional dihuni kaum muslim. Forum Komunikasi Ahlussunnah Wal Jamaah, deklarator-cum-organisasi induk Laskar Jihad, dalam siaran persnya terus menggelorakan semangat pasukan putih seraya meminta bantuan para donatur untuk membiayai anggaran perang. “Setiap harinya kami membutuhkan dana sekitar Rp 15 juta biaya logistik.”Dana tersebut di luar biaya akomodasi anggota Laskar Jihad, yang saat itu menurut Forum Komunikasi Ahlussunnah Wal Jamaah baru mencapai 3.150 orang. Mereka menginap dan makan dari penduduk. Biaya logistik lebih banyak dialokasikan untuk mendapatkan peluru. Dan ini bukan perkara sulit, asal ada duit. Dany mengatakan, senjata dan peluru bisa didapat dari anggota militer Indonesia. “Ada permainan oknum aparat di sana. Ada yang jual-jual senjata. Kalau yang punya duit beli, kalau yang tak mampu ya bikin, atau beli yang rakitan. Aparat-aparat siluman yang sering bantu.”Perang di Ambon, buat Dany, benar-benar menguras isi kantong. “Perang dua minggu saja bisa bangkrut beta,” kata Dany mengutip guyon penduduk di sana.Bagi Laskar Jihad, uang tampaknya bukan halangan. Mereka mendapatkannya dari sejumlah simpatisan, selain mengedarkan kotak sumbangan di jalan-jalan mulai Jakarta, Bandung, sampai Surabaya. Para mujahid juga diberi amaran untuk membawa bekal secukupnya mengingat markas komando tak mampu memberikan fasilitas logistik yang memadai. Semangat seperti itulah yang membuat milisi Laskar Jihad terus bertambah di Ambon, dari ratusan orang hingga ribuan.Laskar Jihad dipimpin oleh ustadz Ja'far Umar Thalib. “Saya pernah ikut ceramah Ja'far Umar Thalib dua kali saat di Ambon. Saya kenal dan tahu dia, tapi dia tak tahu saya,” ungkap Dany.Sebelum Laskar Jihad hadir, nama Thalib nyaris tak banyak disebut media. Belakangan publik tahu kalau Thalib pernah ikut berperang di Afghanistan. Asia-Pacific Center for Security Studies menyebut Thalib sebagai veteran gelombang pertama dari Asia Tenggara dan dikenal dengan “Group 272.” Grup ini berada di antara sekian banyak kelompok yang ikut ambil bagian pada masa akhir kekuasaan Uni Soviet di Afghanistan, sekitar 1982-1992.Kala itu, sedikitnya 3.500 orang muslim dari 35 negara mengalir ke Afghanistan dan bergabung dengan mujahidin setempat. Selain Thalib, di dalam kelompok tadi terdapat nama-nama terkenal yang belakangan dikaitkan dengan kasus-kasus terorisme. Mereka di antaranya Mohammad Iqbal Abdurrahman, Nik Aziz Nik Adli, Abdulrajak Janjalani, serta Hambali. Dari nama-nama ini, setidaknya ada dua nama lain di luar Thalib yang turut memainkan peran dalam konflik Ambon. Mereka Abdurrahman dan Hambali.Peran Hambali dalam kasus Ambon muncul dari nyanyian Ustadz Aceng alias Iqbaluzzaman di Bandung. Dalam pengakuannya di depan pengadilan, Iqbaluzzaman mengatakan bahwa dirinya pernah diceramahi Hambali di Hotel Rinjani, Bandung, pada 2000. Klimaksnya, Hambali meminta Iqbaluzzaman untuk membantu meringankan penderitaan muslim Ambon dengan melakukan “Aksi Ramadan,” yang belakangan diketahuinya memuat rencana pemboman terhadap sejumlah gereja di Bandung dan sekitarnya. “Ini perang kota,” kata Hambali sebagaimana ditirukan Iqbaluzzaman.Sedangkan Mohammad Iqbal Abdurrahman, yang juga dikenal sebagai Abu Jibril, selain memimpin pusat rekrutmen aktivis muslim di tubuh KMM, juga santer dikabarkan memimpin sebuah elit pasukan dengan persenjataan militer lengkap. Pasukan Abu Jibril pula yang dituduh banyak media internasional berada di balik peristiwa berdarah “Galela Massacre” di Ambon yang menewaskan sedikitnya 250 orang kristiani dalam sekali gempur pada 19 Juli 2000. Abu Jibril bukan orang Malaysia asli. Dia seorang eksil Malaysia asal Indonesia. Dia pernah masuk penjara Indonesia pada awal 1980-an.Tak ditemukan dokumen yang menunjukkan adanya koordinasi tingkat tinggi antara pasukan putih Abu Jibril dan Laskar Jihad. Bahkan di lapangan sekalipun. Dalam pandangan Dany, baik mujahidin Malaysia maupun mujahidin Indonesia punya struktur komando masing-masing, dengan wilayah operasi yang berbeda-beda pula.Akibatnya, serangan dari pasukan putih tak jarang berlangsung secara sporadis dan spontan. Dany mengalami sendiri eksesnya. Ketika berada di kampung Batu Merah, dia baru saja mengikuti rapat kampung untuk membahas kemungkinan serangan balasan terhadap pasukan merah yang baru saja memorak-porandakan kampung. Warga di sana ogah-ogahan mengingat minimnya persediaan amunisi dan kalah dalam jumlah personel. Belum lagi bibir mereka kering, Laskar Jihad datang dan langsung mengempur pasukan merah. “Terpaksalah kita ikut bertempur.”Dany tak pernah berdiam di suatu tempat. Dia terus bergerak dari satu kampung ke kampung lain, dan di beberapa daerah dia mengganti nama. Selama di Maluku Utara dia menggunakan nama “Tohir,” dan ketika bergerak ke Maluku Selatan jadi “Harris.”Ada banyak kampung yang disinggahinya. Mulai Ternate hingga Tidore. Apakah perpindahan ini bagian dari gerakannya untuk turut merebut Tobelo dan Galela yang telah dikuasai pasukan merah? Dany mengangkat bahu, dan lebih sering mengunci mulut rapat-rapat. Dia bahkan menegaskan kalau dirinya tak pernah menembak musuh. “Paling-paling ngajar ngaji anak-anak.”Apapun, gerakan Dany dan satuannya memperlihatkan kecenderungan mendekati daerah-daerah yang sedang memanas. Mardika, Batu Merah, dan Tantui adalah medan-medan pertempuran dan merupakan daerah penghubung kota Ambon-Galela. Dan kebetulan atau bukan, saat itu, Juni 2000, pasukan putih dari berbagai komponen sedang memusatkan perhatiannya untuk merebut wilayah-wilayah itu.Pertengahan Juni 2000, pasukan putih mulai mendarat di pinggiran kecamatan Galela, Maluku Utara, baik lewat darat maupun laut. “Pasukan jihad yang dipimpin Panglima Abu Bakar al Banjari berhasil menjebol pertahanan terakhir pasukan kafir Maluku Utara,” demikian bunyi siaran pers Forum Komunikasi Ahlussunnah Wal Jamaah. Dalam pertempuran tersebut pasukan putih merampas ratusan senjata organik.Pada September 2000 sebagian besar Tobelo sudah berada dalam penguasaan pasukan putih, walau akhirnya Komando Daerah Militer Pattimura mengambil-alih keadaan. Dany sendiri balik badan dan menyusuri daerah semula untuk masuk Ambon pada Oktober 2000. “Waktu itu sudah diberlakukan Darurat Sipil, jadi tak bisa ke Galela dan Tobelo. Susah masuk ke sana.”Kota Ambon dan Pulau Seram adalah daerah terakhir yang dijejak Dany.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FEBRUARI 2001, DANY MENUMPANG KAPAL laut menuju Surabaya. Teman-teman dari Malaysia tak lagi utuh, sebagaimana saat mereka berangkat dari Sabah dulu. Enam dari mereka; Yasin, Saad, Lukman, Ilham, Hidayat, dan Ali, langsung pulang ke Malaysia. Sedangkan Ismail tak jelas rimbanya. Kabarnya dia memilih tetap di Ambon sampai situasi memungkinkan untuk pulang. Dany praktis hanya ditemani dua sahabat Malaysia. Mereka Usman dan Rusli alias Ibrahim. Daniel Saputra dari Riau dan Gozi dari Medan melengkapi kelompok ini.Dari Surabaya, mereka naik bus ke Jakarta. Kepulangan mereka rupanya sudah ditunggu Abbas. Dia menjemput di terminal Pulogadung ditemani Abdullah alias Asep, yang kerap dipanggil “Diki.” Abbas membawa mereka ke Jalan Raden Intan II, Buaran, Duren Sawit, Jakarta Timur. Di sana Dany dan kawan-kawannya diinapkan selama dua minggu.Siapa Abbas? Nama aslinya Edi Setiono, tinggal di Jalan Kayu Manis Timur, Matraman, Jakarta. Abbas lahir di Jakarta pada 20 Mei 1961, dan lulus Sekolah Teknik Menengah Perkapalan, Jakarta, pada 1979. Awal 1980-an Abbas berangkat ke Jerman dengan modal nekat. Dia hendak kuliah di sebuah universitas teknik. Sebelum masuk kampus, Abbas mengikuti sebuah pre-college di Berlin. Di tempat kursus inilah, sejak tahun 1985, Abbas membaurkan diri ke dalam aktivisme Young Moslems Association in Europe (YMAE). Di situ dia sering berdiskusi dengan teman-temannya mengenai masalah Afghanistan yang sedang dikuasai Uni Soviet.Hatinya tergerak untuk berjihad. Pada 1987 dia berangkat ke Afghanistan lewat Pakistan dan bergabung dengan para mujahidin di sana. “Saat di Pakistan sempat putus hubungan komunikasi dengan keluarga selama hampir tiga tahun,” kata Abbas.Selama di Pakistan, Abbas tinggal di wilayah perbatasan, yang punya akses masuk ke Afghanistan secara leluasa. Letaknya tak jauh dari Peshawar. “Ini daerah tak bertuan. Siapa saja bisa tinggal di sana, bikin tenda, hidup di gua-gua dan bukit-bukit padas,” ungkap Abbas. “Banyak sekali orang di sana, tapi kita tak saling kenal. Yang datang bukan hanya dari Indonesia. Dari banyak negara.” Abbas sendiri datang ke sana membawa bendera YMAE, dan langsung menuju garis depan. “Paling kalau istirahat ada di front belakang, nyiapin logistik, pengobatan.”Tahun 1990 Abbas kembali ke Indonesia dan menumpahkan kegiatan hidupnya untuk berdagang. Di akhir dasawarsa 1990-an Abbas kembali tergerak untuk ambil bagian dalam aktivisme membela muslim di Ambon. Paruh akhir 2000 dia mulai menginjakkan kakinya Ambon dan tinggal di Galela selama tiga bulan hingga awal 2001. “Waktu itu yang saya ingat sedang Idul Adha pokoknya. Ke Ambon cuma mampir saja selama dua jam, saat kapal yang mau ke Surabaya merapat.”Apakah keberangkatan Abbas ke Maluku juga bertujuan untuk menghubungi Dany agar segera ke Jakarta? Tak ada jawaban dari Dany, juga Abbas. Namun, rencana pemboman terhadap peribadatan kristiani di Jakarta yang melibatkan nama mereka diketahui telah dirancang jauh hari, paling tidak sebelum Abbas berangkat ke Ambon yakni sekitar Oktober 2000 atau November 2000. Aksi itu dibahas dalam suatu pertemuan di Jalan Anggrek Raya, Perumahan Klender, Jakarta Timur. Selain Abbas, hadir pula Hambali, Imam Samudra, Abdullah, Musa, Hakim, Abdul Jabar, dan Jabir alias Enjang Bustaman.Awalnya mereka hanya membicarakan masalah-masalah dalam agama Islam, dan memuncak pada rencana aksi peledakan bom dengan sasaran sejumlah gereja di berbagai wilayah di Indonesia. Puncaknya, Imam Samudra ditunjuk untuk menyediakan material bom. Abbas kebagian peran sebagai koordinator aksi di Jakarta, dan untuk Jawa Barat jatuh ke pundak Jabir. Nama yang disebut terakhir tewas dalam ledakan bom prematur di Jalan Terusan Jakarta, Antapani, Bandung, pada 24 Desember 2000.Pertemuan dengan Hambali bukan sekali-dua. Di tahun 2000 Hambali sering berada di masjid Al-Fataah, Jalan Menteng Raya. Masjid ini sering digunakan buat pengajian bertemakan jihad, masalah Palestina, kasus Ambon, dan kehidupan kaum muslim yang tertindas di berbagai negara. Di sini pula para alumni Afghanistan biasa berkumpul. “Ya ngobrol-ngobrol biasa saja. Jabar kan juga tinggal di situ,” kata Abbas mengacu Abdul Jabar.Dalam pertemuan, lanjut Abbas, Hambali biasanya hanya bicara seperlunya. “Lagi pula dia kan lebih suka bicara dengan orang-orang yang 'kelasnya' sudah tinggi. Siapa sih saya kok bicara dengan dia.”Hambali dikenal Abbas sejak tahun 1999 lewat Abdul Jabar, kakak kandung Agung alias Faisal alias Solahudin alias Dedi. Jabar sendiri terkait dengan pemboman kantor kedutaan besar Filipina di Jakarta pada 2000 dan serial bom Natal 2000. Nama Abdul Jabar juga muncul dalam kasus bom Bali pada 2002. Abbas berteman dengan Jabar dan keluarganya sejak tahun 1993. “Kalau Hambali dekat dengan kakaknya Abdul Jabar … Fanani,” kata Abbas.Fanani atau Farihin Ibnu Ahmad adalah tersangka kasus bom di Poso dan Palu pada 1995. Setelah dilepas, dia kembali ditangkap polisi Sulawesi Selatan pada 2002 karena kedapatan membawa ribuan butir peluru di pelabuhan Panto Loa, Palu, Sulawesi Selatan. Dia anak Ahmad Kandai, aktivis Negara Islam Indonesia (NII) di masa lalu. Pada 30 November 1957, Kandai sempat melakukan percobaan pembunuhan terhadap Presiden Soekarno dengan lemparan granat yang dikenal sebagai “Peristiwa Cikini.”“Hambali pernah tinggal di Menteng juga?”“Dia kan rumahnya di Cianjur. Ya cuma main saja, ketemu teman-teman.”“Kalau Imam Samudra?”Abbas mengiyai.Imam Samudra nama lain dari Abdul Aziz. Dia lahir di Lopang Gede, Serang, Banten, tahun 1970. Selepas pertemuan dengan Enjang Bustaman pada 1991, Imam berangkat ke Karachi melalui Malaysia, dengan tujuan muaskar mujahidin Afghanistan di kawasan Khost. Tahun 1993 Imam pulang dari Afghanistan dan tinggal di Malaysia sampai 1998. Setahun kemudian dia balik ke Indonesia dan terlibat sejumlah pertemuan di berbagai tempat di Jakarta bersama Enjang Bustaman, Hambali, dan lainnya. Seperti juga Hambali, Imam tak ubahnya sosok hantu dengan banyak nama alias: Kudama, Abdurrahman, Heri, Abu Fath, Abu Amar, dan Faiz Junshar.Polisi menganggap Imam Samudra bertanggung jawab atas serangkaian serangan bom dalam kurun waktu 2000-2002 di sejumlah kota, mulai Batam, Medan, Jakarta, hingga Bom Bali yang merenggut 202 korban jiwa dan 325 orang terluka pada 12 Oktober 2002. Dia ditangkap pada 21 November 2002 di dermaga pelabuhan Merak dan dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Bali pada 10 September 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBUAH RUMAH BERLANTAI DUA terletak di Jalan Malaka Raya Blok II, Perumahan Klender, Jakarta Timur. Temboknya berwarna putih kusam, seperti belum pernah ganti cat dalam waktu yang lama. Pagar besi hitam yang jadi pembatas dengan jalan, selalu berderit tiap kali digeser. Pekarangan seluas kurang lebih 5 x 6 meter persegi yang beralaskan paving blok merah hati dibiarkan apa adanya. Tempat parkir tanpa atap terletak di sayap kanan, dan hanya cukup untuk satu kendaraan roda empat berukuran besar.Saban pagi sehabis adzan subuh, tetangga terdekat sering mendengar lagu-lagu islami macam Nasyid dan Kasidahan. Di sela-selanya, tak jarang terdengar tangis anak-anak dan percakapan antarmereka yang tak bisa didengar dengan jelas. Penghuni kadang-kadang keluar dengan tutup kepala ala Raihan, kelompok vokal dari Malaysia. Mereka jarang bergaul, lebih-lebih bertetangga dan bertegur sapa. Sekalinya berpapasan dengan orang di sana, mereka cuma mengangguk dan senyum.Wisnu Subarkat, seorang pensiunan pegawai kejaksaan, tetangga sebelah kanan rumah tersebut, sempat mencurigai tindak-tindak penghuni yang enggan bergaul itu. Apalagi setelah Subarkat tahu kalau kartu penduduk yang mereka miliki semuanya lokalan. Kartu ini biasanya diberikan kepada pendatang dari luar Jakarta. Subarkat pun curiga pada pekerjaan mereka yang tak jelas. Dia sempat mendengar kalau mereka hidup dari berdagang, namun Subarkat tak pernah tahu apa yang mereka jual. “Mana barang dagangannya?” sergah Subarkat ketika Subagio, ketua rukun tetangga di sana, mengomentari kecurigaan Subarkat.Subagio mengungkapkan, rumah tersebut berada dalam penguasaan Nur Aini Nasution setelah suaminya, Yusuf Nasution, meninggal. Pada Maret 2001, Nur Aini mengontrakkannya kepada Abdullah yang mengenalkan diri dengan nama “Asep.” Abdullah menghuninya dengan istri dan dua anaknya yang masih kecil. Seorang berusia tiga tahun, seorang lagi masih bayi.Beberapa hari kemudian penghuni bertambah dua orang lagi. Keduanya sudah berusia dewasa. Siapa mereka? Tak lain dari Dany dan Rusli yang baru saja diboyong Abbas dari daerah Buaran, Jakarta Timur. Teman seperjalanan mereka dari Ambon, Daniel Saputra, Gozi, dan Usman, pulang ke keluarga masing-masing.Ada yang menarik bagi Subagio. Sekitar dua bulan setelah Dany tinggal di sana, Abdullah memboyong istri dan anak-anaknya ke rumah kontrakan baru, yang berjarak beberapa ratus meter dari rumah milik Nur Aini itu. Letaknya hampir berseberangan. Kepindahan Abdullah disusul masuknya sesosok wajah baru. Subagio merasa si pemilik wajah tersebut tak lain dari Abdul Jabar bila dilihat dari fisiknya yang bermata belo, pipi lebar, dan rambut lurus. Subagio mengetahui Abdul Jabar dari koran-koran yang memberitakan penangkapannya pada Januari 2003.Subagio tak tahu siapa saja yang bertandang ke rumah itu. Yang dapat dipastikan, hampir setiap waktu rumah tersebut selalu didatangi tamu. Wisnu Subarkat,mengingat salah seorang di antaranya Imam Samudra. Dia disapa teman-temannya “Ziz,” kependekkan dari Abdul Aziz, nama lahir Imam Samudra. Subarkat tahu paras Imam Samudra dari televisi saat tertangkap. “Saya terhenyak saat tahu itu,” kata Subarkat.Masih segar dalam ingatannya, Imam Samudra pernah memberi bungkusan yang berisi korma. Di lain waktu, dia pernah memberi spagheti dan makanan lain. Tiap memberi, Imam Samudra hanya menjulurkan tangannya lewat pagar pembatas yang tingginya 110 sampai 120 centimeter. Dia, kata Subarkat, tak banyak bicara. Saat memberi korma, misalnya, sambil tersenyum Imam Samudra hanya berujar, “barang dagangan.” Seingat Subarkat, Imam Samudra sering terlihat berada di sana sampai Juli 2001. Subarkat bahkan sempat mengira orang itu penghuni tetap.Abbas tak menyangkal kalau Imam Samudra kerap bertandang. Di sana mereka sering berdiskusi soal-soal agama, termasuk nasib kaum muslim di Ambon yang di mata mereka sedang teraniaya dan membutuhkan pertolongan segera karena ditekan orang kristiani. Desakan untuk segera melakukan aksi pemboman di Jakarta pun datang dari Imam Samudra. Abbas ingat, saat sedang berkendaraan dari Klender menuju Blok M –beberapa minggu sebelum pemboman Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dan Santa Anna– Imam Samudra menggerutu, “Bagaimana, umat Islam di Ambon dibantai terus?”“Bagaimana ya, kita enggak punya apa-apa.”“Cobalah cari target-targetnya. Kalau barang bisa didapatkan.”Empat hari sesudah perbincangan itu, Imam Samudra menelepon Abbas. “Bagaimana, sudah dapat belum targetnya?”“Belum ada yang pas, Pak. Bagaimana nih?”“Usahakanlah. Barangnya sudah ada.”“Okelah, saya usahakan.”Abbas menuturkan, sejak mendapat telepon itu, dirinya bersama Dany dan kawan-kawan berkeliling Jakarta. Dan ketika Imam Samudra kembali menelepon, Abbas tanpa ragu menjawab bahwa dirinya sudah mendapat titik-titik lokasi untuk diledakkan. “Silakan pilih yang mana?” kata Abbas seusai menggelar rincian alternatif target.“Oke, nanti saya datang ke sana,” tukas Imam Samudra.Beberapa hari kemudian Imam Samudra turun dari bajaj di depan rumah kontrakan itu. Dia membawa tas plastik berisi material peledak dengan empat detonator berikut empat timer (pengatur waktu). Bawaan Imam ini disimpan selama beberapa hari, dan baru pada 21 Juli 2001 Abbas memilahnya menjadi empat bagian yang sama. Dia mempersiapkan kardus, kantong plastik, dan lakban untuk keperluan perakitan.Esoknya, sehabis salat subuh, Imam memimpin perakitan dan menyelesaikan tiga paket. Satu paket yang belum dirakit dipersiapkan untuk sasaran Atrium Plaza, Senen. Sekitar pukul 06.00, Abbas sudah duduk di balik kemudi Daihatsu Zebra. Dia ditemani Agung dan Dany. Di tangan mereka terdapat dua paket bom rakitan. Bom siap ledak lain dibawa Abdullah dan Rusli yang membelah pagi dengan sepeda motor RX-King. Tujuan mereka dua titik lokasi: Abdullah dan Rusli akan beroperasi di Gereja Santa Anna, sementara Dany dan Agung di Gereja HKBP Jatiwaringin.Gereja Santa Anna terletak di Duren Sawit, Jakarta Timur, dan masuk dalam kawasan kompleks militer Angkatan Laut. Bangunan gereja berdiri di atas lahan seluas sekitar 12 ribu meter persegi, berdampingan dengan Gedung Pertemuan Yos Sudarso, taman kanak-kanak, sekolah dasar dan menengah, serta rumah pengelola gereja dan parokial. Sejumlah pohon rindang yang mengelilinginya membuat tempat itu terkesan sejuk.Di dalam gereja terdapat panggung misa selebar kira-kira lima meter persegi, berdepanan dengan deretan bangku kayu yang memanjang dan membentuk 30 baris. Ada tiga sekat yang memisahkan masing-masing bangku untuk berjalan melalui pintu depan dan samping kanan gereja. Abdullah dan Rusli masuk melalui pintu samping sebelum jemaah berdatangan. Mereka lantas menaruh paket bom yang sudah disetel timer-nya di bangku kelima dari belakang.Bom meledak sekitar pukul 07.05, beberapa menit setelah Romo Suryatma naik mimbar. Ledakan ini memporak-porandakan seluruh jendela kaca, menjebol langit-langit, dan meninggalkan lobang sampai radius sekitar 40 centimeter dari episentrum, dengan kedalaman sekitar 30 centimeter. Sedikitnya 72 orang terluka, berat dan ringan.Di Gereja HKBP Jatiwaringin, bom meledak selang lima menit kemudian. Gereja ini terletak di Jalan Kartika Eka Paksi, Kalimalang, Jakarta Timur, dan menjorok ke dalam dari kawasan perumahan militer Angkatan Darat. Ledakan tak menimbulkan banyak korban cidera, sebagaimana yang terjadi di Santa Anna. Ini lantaran pusat ledakan berada di luar bangunan. Dany dan Agung memang kesulitan untuk masuk ke dalam gereja karena masih terkunci. Hari Minggu itu, Wahyu, penjaga gereja, tak biasanya telat bangun. Bahkan pendeta M.G.H. Tampubolon yang menggantikan Pendeta Daniel Harahap datang terlambat 20 menit.Melihat gereja masih terkunci, Dany berinisiatif menyimpan bom di sebuah warung yang berjarak sekitar 100 meter dari gereja. Bom ini tak kunjung meledak dan berhasil diamankan polisi. Sumber ledakan datang dari paket bom yang disimpan di kolong sebuah mikrolet M-18 bernomor polisi B 2248 JJ, milik keluarga Silitonga, yang diparkir di persimpangan Jalan Artileri-Jalan Kartika Eka Paksi.Ledakan itu menerbangkan mikrolet, selain menghancurkan dua mobil jemaat lain yang parkir di kiri-kanannya. Getaran bom ikut merontokkan kaca-kaca di menara gereja dan sejumlah lampu kristal. Bumper mikrolet terbang setinggi kurang lebih 15 meter dan hinggap di atap menara. Hendrik Silalahi, yang sedang berada di pusat ledakan, berjalan terhuyung-huyung bermandikan darah dan segera dilarikan ke rumah sakit bersama korban lain, Aldo dan Yusuf.Sehari setelah ledakan di kedua gereja tersebut, Wisnu Subarkat mendapat kiriman dari tetangga sebelah berupa bungkusan daging akikah; daging tanda syukur atas sebuah keberhasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ATRIUM PLAZA DITETAPKAN SEBAGAI sasaran berikutnya. Bangunan ini terletak di pusat keramaian Senen, salah satu kawasan tersibuk di Jakarta Pusat. Sebelum jatuh ke tangan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), Segitiga Atrium, perusahaan induk yang mengelola sentra bisnis tersebut, berada dalam kepemilikan Kaharudin Ongko.Sempat beredar selentingan, pemboman atas Atrium Plaza dilatari persaingan bisnis dengan motif untuk memukul konglomerat tua itu. Motif ini kelak segera menguap begitu Dany dan Abbas ditetapkan sebagai tersangka dan ternyata tak punya korelasi apapun dengan kepentingan bisnis. Lebih-lebih setelah mereka mengurai targetnya, yang memperlihatkan bahwa titik pemboman direncanakan berada di Gedung Serbaguna Rajawali yang terdapat di lantai 16 Graha Atrium, kompleks perkantoran yang mengelola pusat perbelanjaan itu. Gedung tersebut diketahui mereka sering digunakan jemaat kristiani untuk melangsungkan kebaktian, antara pukul 17.00 sampai 21.00. Data administrasi memang menunjukkan, sejak Juli 2001 gedung tersebut telah dikontrak oleh Bethesda Ministry melalui nama Henry Tumewu.Motif mereka –yang diakui secara eksplisit di depan polisi dan tak pernah dibantah sampai jatuh vonis pengadilan– adalah balas dendam atas perlakuan kaum kristiani yang di mata mereka telah menindas komunitas muslim di Maluku. Motif ini sekaligus mengubur keterangan Omar al Faruq, orang Kuwait yang ditangkap di Bogor dengan tuduhan jadi wakil al Qaeda di Asia Tenggara, yang dalam interogasi mengatakan bahwa pemboman itu untuk melenyapkan Megawati Soekarnoputri, wakil presiden Indonesia. Saat itu, para pemimpin Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ditenggarai sedang melangsungkan rapat besar di daerah Pecenongan, tak jauh dari Atrium Plaza. Rapat ini dipimpin Megawati.“Ditaruh dekat kaki saya saja cuma begini,” kata Dany sambil mengangkat kakinya yang buntung. “Bagaimana mungkin bisa membunuh Megawati ... dilempar ke mobilnya?” Dany bertanya retoris.Dalam pemeriksaan polisi terungkap, rencana peledakan mulanya ditetapkan pada 25 Juli 2001. Rencana ini batal lantaran Abbas tiba-tiba harus berangkat ke Tasikmalaya untuk menjenguk mertuanya yang sedang sakit. Abdullah yang sedianya akan menggantikan peran Abbas ikut-ikutan menghilang. Mereka akhirnya mengganti rencana, dengan tanggal 1 Agustus 2001 sebagai tenggat eksekusi.Hari-H tiba. Pagi itu, sekitar pukul 10.00, Abbas datang ke Klender. Dia minta Abdullah menemani untuk suatu urusan di Jalan Warung Buncit dan Lenteng Agung. Abdullah spontan membalas bahwa Dany dan kawan-kawan memerlukan kendaraan untuk survei. “Pak Abbas tolong anterin dong, anak-anak pengin main ke Atrium tuh,” pinta Abdullah.Abbas menyanggupi. Kilat, mereka bersiap-siap. Dany menyambar sepucuk pistol FN-45 dari tujuh pistol di sana. “Saya bawa satu,” Dany mengacungkan senjata. Abbas menganggukkan kepala, “Bawa saja.”Pukul 10.30 mereka berangkat menuju Atrium. Di sana mereka memindai situasi selama beberapa menit. Dari survei, tercetus rencana baru untuk menaruh bom dalam kendaraan carteran yang akan membawa jemaat pulang kebaktian.Kini mereka meluncur menuju rumah Abbas di Matraman, tempat paket bom yang belum dirakit disimpan. Dalam perjalanan pulang mereka membeli Dunkin's Donuts di Jalan Sabang, dan mampir ke masjid Cut Meuthia di sekitar Taman Suropati, Jakarta Pusat, untuk salat dzuhur. “Lama juga nih kita enggak jalan-jalan,” kata Abdullah, begitu mereka sampai di Matraman. Jarum jam menunjukkan sekitar pukul 16.00.Selang beberapa waktu, Abbas pergi ke belakang rumah menuju tempat pompa air. Dia mengambil kardus berisi bungkusan plastik paket bom dan menyerahkannya kepada Dany. Bersama Abdullah, Dany melakukan perakitan. Bubuk hitam dari bungkusan plastik ditaruhnya di dalam kardus Dunkin's Donuts dan ditaburi proyektil yang terbuat dari gotri, serbuk besi, dan paku. Pada taburan tersebut detonator diletakkan dan kabelnya ditarik keluar untuk disambungkan dengan kabel timer. Posisi timer berada di luar kardus. Terakhir, Dany mengeset timer dengan perkiraan waktu ledak pukul 21.10 saat bom sudah berada dalam bus yang mulai bergerak.Teorinya, ledakan pada bus yang sedang bergerak bisa menimbulkan efek gelembung. Kemungkinan terbakar juga besar karena adanya solar. Korban, kata Dany, bisa lebih banyak lagi jika mereka duduk berdekatan.Yang jadi pertanyaan, kenapa bom seberat sekitar satu sampai dua kilogram itu meledak sebelum waktunya? Apakah benar Dany dijahili dengan jalan peledakan jarak jauh? Dany tersenyum. Dia tak melihat kemungkinan tersebut. Bom yang dirakit bukanlah kategori bom remote control. “Letupan itu kan persoalan timer,” kata Dany.Dany berkilah bahwa bom yang dibawanya bukanlah bom yang sempurna seperti produk pabrikan. Belakangan Abbas menjelaskan bahwa Dany membuat dua kekeliruan.Pertama, kekeliruan teknis. Dany memang sudah benar dalam prosedur dengan menumpukkan dua timer yang salah satunya untuk firing device. Dia mengesetnya sejak pukul 19.10 untuk dua jam ke depan, sehingga bom diperkirakan meledak pada pukul 21.10. Kesalahan Dany terletak pada pilihan timer yang sudah kadaluarsa. Timer tersebut, kata Abbas, berdering setiap satu jam. Bisa dipahami kalau bom akhirnya meledak satu jam lebih awal.Kedua, Dany melanggar rencana. “Dalam kerja-kerja seperti ini (jihad) kan biasanya ada tiga hal. Satu penyerahan diri, self sacrificing, dua teknis, dan tiga patuh pada order. Kalau yang pertama jelas, yang kedua harus paham teknisnya, dan ketiga harus taat pada rencana yang telah dibuat,” kata Abbas hati-hati. “Untuk kasus Dany misalnya, coba dia taruh langsung tentu tak akan seperti ini. Paling tidak, meskipun itu meledak, tak terjadi apa-apa padanya. Meski dia sudah siap untuk itu,” ujar Abbas.Abbas mengatakan, untuk menghindari ledakan dini, dirinya cepat-cepat menyusul Dany untuk memberi isyarat agar segera menaruh bom.“Saya tak tahu. Isyarat dari siapa?” jawab Dany.“Pak Abbas.”“Tak ada. Tak ada itu isyarat. Bom itu memang meletup duluan.” Dany kemudian memelankan suaranya, “misalnya paket itu saya bawa jalan ke tempat parkir bus sekalipun, pasti juga akan meledak di jalan.” Jarak pintu masuk Atrium sayap timur dengan tempat parkir bus di depan Graha Atrium sekitar 5-10 menit jalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HANYA SEHARI DANY BERADA di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. Sehabis badannya dibersihkan dari paku-paku dan kaki kanannya diamputasi, Dany dipindahkan ke Rumah Sakit Kepolisian Indonesia di Kramat Jati, Jakarta Timur, mulai 2 Agustus 2001 sore. Di tempat baru Dany diperiksa lebih intensif. Penjagaan untuknya diperketat.Dany berusaha menyembunyikan identitasnya. Dia selalu mengelak saat ditanyai. Di saat lain dia mencoba membangun alibi sebisa mungkin. Polisi menilai Dany sebagai sasaran sulit. Tak kehabisan akal, polisi melakukan penyamaran. Komisaris Besar Adang Rochjana berpura-pura jadi dokter.Dengan nada simpatik, Rochjana menanyai Dany perihal teman. Tak dinyana, Dany menggumamkan nama “Fadil.” Dari informasi secuil ini, Rochjana memerintahkan anak buahnya untuk memburu Fadil.Fadil Abdurrahman, yang disebut-sebut Dany sebagai teman, tinggal di Jalan Harapan Baru Blok C-1, Bekasi. Dia ditemukan polisi saat berada di dalam kantor Yayasan Al-Rosikun bersama teman-temannya: Solihin, Sutisna, dan Husni Rizal. Dari situ polisi bergerak ke rumah Fadil dan mendapatkan sejumlah dokumen. Mulai catatan sistem pembikinan bom, dokumen tentang berbagai jenis senjata api, serta prosedur dan tata cara pelatihan militer.Fadil membuka kedok Dany. Orang itu menerangkan bahwa dirinya pernah dibawa Dany ke sebuah warung internet di sekitar Grand Mall, Bekasi, dan melihat-lihat situs web tentang sistem pembuatan bom. Sebelum mengunduh file tentang cara merakit bom untuk diterjemahkan, Fadil masih mengingat ucapan Dany, “Kita itu dibodohi sampai enggak bisa membuat bom, padahal itu gampang.”Penelitian berlapis segera dilakukan. Di Atrium Plaza, tim kecil yang dipimpin langsung Carlo Brix Tewu, kala itu menjabat kepala Unit Antiteror dan Bom Direktorat Reserse Kepolisian Daerah Metro Jaya dengan pangkat ajun komisaris besar, kembali menyisir episentrum ledakan untuk mengumpulkan sejumlah barang bukti. Mereka antara lain menemukan residu black powder dan trinitrotoluene (TNT). Di laboratorium tim yang berada di bawah kendali Brigadir Jenderal M. Hamim Soeriaamidjaja, kepala Pusat Laboratorium Forensik Kepolisian Indonesia, memeriksa hasil swab (sapuan kapas).Sadar tak lagi dapat menyembunyikan identitasnya, Dany menyerah. Dia mengungkapkan sejumlah pengakuan, termasuk tentang teman-temannya yang terkait kasus pemboman di Atrium. Pada 9 Agustus 2001, Dany ditetapkan sebagai tersangka.Esoknya, giliran Sigit Listyo Prabowo beraksi. Prabowo, berpangkat ajun komisaris polisi, saat itu menjabat kepala Polisi Sektor Duren Sawit. Bersama anak buahnya, dia mengaduk-aduk rumah kontrakan Dany di Klender. Penggeledahan ini diikuti tim Gegana dari Kepolisian Daerah Metro Jaya sehari sesudahnya.Dari rumah Dany, polisi mendapatkan sejumlah barang bukti, mulai gambar sketsa perakitan bom, digital multimeter, travelmate suit alarm clock, baterai Hi-Watt, serta baterai Quan-Ba. Barang bukti yang disebut terakhir, menurut Soeriaamidjaja, identik dengan material yang ditemukan dalam kasus peledakan gereja HKBP dan Santa Anna pada 24 Desember 2000. Polisi pun mengarahkan pemeriksaan untuk melihat keterkaitan Dany dalam kasus peledakan dua gereja tersebut.Dany tak punya pilihan lain, selain mengakui semua perbuatannya, termasuk menginformasikan di mana kira-kira temannya berada. Dari mulut Dany pula untuk kali pertama nama Imam Samudra meluncur dan mulai menjadi sosok hantu untuk beberapa waktu lamanya.Mengikuti “nyanyian” Dany, polisi bergerak ke Pandeglang yang diduga jadi tempat persembunyian teman-teman Dany. Sedikitnya 13 orang, yang menurut polisi sedang berlatih kemiliteran, dibekuk. Abbas –yang sehari sesudah terjadi ledakan di Atrium Plaza berangkat ke sana atas perintah Imam Samudra untuk menyerahkan beberapa pucuk pistol kepada seseorang bernama Jaja– tak ditemukan.Abbas baru berhasil ditangkap pada 11 September 2001 di rumah mertuanya, Kampung Babakan Pareundeung, Kawalu, Tasikmalaya. Saat itu, sekitar pukul 13.00, dia sedang asyik menonton televisi bersama anak-anaknya. Dari tangan Abbas, setelah rumahnya di Matraman digeledah, polisi mendapatkan sejumlah barang bukti, mulai komputer, satu set peralatan solder, sampai sepucuk senjata api jenis S &amp; W Magnum dengan 12 butir peluru.Setelah penangkapan itu hubungan Abbas dan Dany merenggang. Mulai pemeriksaan hingga pengadilan, keduanya jarang bertegur sapa. Abbas sempat menumpahkan kekesalannya dengan berkomentar bahwa Dany mestinya mau menanggung risiko sendiri jika benar-benar mau berjihad. “Misalnya Dany kemarin tidak ngomong kan tidak akan terbongkar semua,” kata Abbas. Beberapa detik kemudian, Abbas buru-buru meralat bahwa ucapan barusan bukan dimaksudkan untuk memojokkan Dany, apalagi menuduhnya telah menjebloskan Abbas ke dalam penjara.Persoalan yang dihadapi Dany kini bukan sekadar hukuman yang bakal didapat dari tindakannya, tapi juga “serangan” yang bakal dihadapinya di pengadilan. Abbas, ditilik dari sikapnya selama ini, secara teoritis tak mungkin membantu Dany untuk meringankan hukuman. Dan benar, di tingkat pemeriksaan polisi saja pengakuan Abbas sering menyanggah apa yang diungkapkan Dany. Abbas, misalnya, tak mengakui kalau dia koordinator peledakan itu. Dia bahkan tak mengakui kalau dirinya terlibat rapat-rapat perencanaan.Abbas berdalih, jika kemudian berita acara pemeriksaan itu diteken, ini semata demi menghindari perlakuan kasar polisi atas dirinya. Tak hanya ancaman fisik, Abbas mengatakan bahwa dirinya tak jarang mengalami tekanan psikologis, seperti ditodong senjata. “Jangan bohong kamu, kalau bohong saya tembak,” kata Abbas menirukan ucapan polisi pemeriksa.Menghadapi gelagat tak beres berupa kemungkinan beratnya hukuman, Dany berkonsultasi dengan pengacaranya, Duni Nirbayati.“Apa yang bisa meringankan hukuman saya?” kata Dany.“Satu-satunya cara untuk ringan adalah memberi keterangan dengan baik, kooperatif dengan petugas,” kata Nirbayati.“Jaminannya apa?” kejar Dany, yang dalam pandangan Nirbayati, Dany kuatir Tewu bersikap bias mengingat dia beragama kristen.“Percayalah, untuk urusan pekerjaan, Bang Carlo orang yang bisa profesional memisahkan kepentingannya. Akhirnya saya buat gentlement's agreement dengan Bang Carlo lewat sebuah surat keterangan betapa koperatifnya Dany,” tutur Nirbayati.Carlo B. Tewu tak memungkiri keluwesan Dany. “Dia,” kata Tewu merujuk Dany, “banyak membantu dalam pemeriksaan. Dari dialah kami mendapat banyak temuan baru tentang jaringan mereka. Ada nama Abbas, Abdul Jabar, Asep, Imam Samudra, dan Hambali.”Februari 2002, perkara Dany disidangkan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Sejumlah saksi hadir di situ, mulai Eva Marbun, koordinator kegiatan Graha Atrium; Anita Abdul Aziz, korban ledakan bom; sampai Wisma Subarkat, tetangga Dany. Di hampir semua persidangan yang dijalani, Dany selalu terlihat tenang. Sorot matanya tetap tajam, kontras dengan wajahnya yang cekung. Dua bulan kemudian sikapnya yang tenang terkelupas. Dia mencoba berdiri dengan tubuh gemetar. Parasnya pucat, kelopak mata memerah. Dany baru saja divonis mati. Dia kelihatan sedih, meski tak ada air mata menetes.“Ya enggak papa, hidup dan mati kan di tangan Tuhan,” kata Abbas mengomentari vonis itu.“Saya tak habis mengerti bagaimana bisa divonis mati,” ujar Duni Nirbayati.“Banding,” ucap Dany, pelan.Dalam peradilan tingkat banding, hukuman buat Dany berkurang. November 2002 Dany diputus 20 tahun penjara. Abbas pun terhindar dari hukuman mati seperti yang diterimanya seminggu setelah vonis buat Dany jatuh. Abbas juga mendapat 20 tahun penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HALAMAN ITU MEMANJANG, SEKITAR 6 x 20 meter. Untuk masuk ke sana tak sukar, asal bersedia mengikuti “aturan main” termasuk menyediakan uang recehan. Di pos pendaftaran orang cukup menyelipkan Rp 1.000-Rp 2.000.Penjara Salemba, Jakarta, bukanlah bui yang harus ditakuti buat mereka yang tahu situasi dan mau memanfaatkan peluang. Seorang tahanan bahkan bisa membawa peralatan tidur, lengkap dengan televisi. Tempat itu pun acap jadi bahan pemberitaan menyangkut peredaran obat bius atau perilaku seks menyimpang. “Di sini, apa saja yang bisa dimakan, dimakanlah. Siapa yang bisa dimakan, dimakanlah,” kata Dany. “Hati-hati di sini kalau dimintai duit. Mereka menganggap orang besuk itu datang bawa banyak uang.”Untuk menengok orang sekaliber Dany, sekali datang orang harus menyediakan minimal Rp 50.000. Bagian terbesar diberikan pada tahanan, sekurang-kurangnya Rp 25.000. Jika tidak, dia akan bangkrut, atau yang lebih merepotkan lagi tak bisa mendapat kartu pas kelak. Uang ini digunakan untuk setoran. Petugas pemungut biasanya keliling sel sehabis adzan maghrib dengan bukti salinan kartu kunjungan di tangan.Dany terbilang cepat paham liku-liku penjara. Ada banyak orang mengajarinya ini-itu sejak pertama datang.Kehadiran Dany di penjara Salemba telah didengar penghuni lain beberapa hari sebelumnya. Maka, begitu dia tiba, sambutan mengalir ke selnya. Kejahatan yang dilakukannya memang terbilang langka, dan sebutan “teroris” yang melekat padanya jadi pangkal keingintahuan orang untuk mengenal dia. Vonis hukuman mati yang sempat diterima Dany sedikit banyak telah membawa dia ke status tahanan yang lebih “tinggi” ketimbang lainnya. Inilah barangkali sebabnya, ketika kali pertama menghuni sel, Dany sempat didatangi dan disalami Maulawarman dan Noval Hadad, keduanya tahanan kelas berat dan disegani penghuni. Mereka ditahan sejak medio 2001 dalam kasus pembunuhan Hakim Agung Syafiuddin Kartasasmita.Dalam wawancara-wawancara awal, Dany sering ditemani semacam pengawal yang bertubuh besar. Dia biasanya tampil rileks dan sesekali menyunggingkan senyum. Kadang-kadang derai tawanya juga keluar.Dari perjumpaan selama kurun Nopember 2002 sampai Maret 2003, kesan yang didapat darinya adalah otaknya yang encer. Dia selalu dalam keadaan siap untuk menyelidiki kata per kata dari lawan bicaranya. Satu hal lagi, dia tak mudah memercayai orang. Dany bukan subjek yang gampang ditelisik, memang. Makin susah kalau suasana hatinya sedang galau. Pada Maret 2003, umpamanya, dia datang dengan muka masam.“Biasalah di dalam kan banyak masalah,” kata Dany tanpa mau memandang lawan bicara, “sedikit saja perbuatan bisa jadi masalah. Tiap hari ada saja masalah. Mereka kan biasa hidup tekan-menekan, saling menindas. Agak-agaknya tadi juga dia bertujuan itu.”Tak jelas apakah dia sedang kesal pada seorang tahanan atau baru saja menerima kabar buruk. Beberapa hari sebelumnya, dalam suatu wawancara, Duni Nirbayati mengatakan bahwa kasasi Dany ditolak karena dua hal: kesalahan prosedural dan keterlambatan memasukkan permohonan. “Lagi pula dia takkan menang.”“Jangan tanyakan lagi apa yang sudah saya beri, saya tak mau kasih. Capek!”Beberapa saat kemudian, Dany bangkit dari duduknya. Tubuh setinggi kurang lebih 170 centimeter itu kelihatan makin kurus, letih, dengan pipi kian cekung hingga tampak menelan kelopak mata. Janggutnya yang kian panjang menari-nari mengikuti hembusan angin, tak peduli tuannya sedang gundah. Dalam diam, dia membetulkan letak kruk hingga pas di ketiak. Tertatih-tatih dia berjalan menuju blok selnya.Dia tak benar-benar abai. November 2003 Dany masih mau keluar dari selnya. Kali ini dia tak lagi di penjara Salemba, tapi di penjara Cipinang, Jakarta Timur. Harga kartu pas di sini lebih mahal, bisa mencapai Rp 50.000 untuk pintu blok terpidana, dan sekitar Rp 5.000-10.000 untuk sipir di masing-masing pos jaga.Dany datang ke ruang besuk dengan air muka berseri. Jalannya masih tetap tertatih-tatih, tapi kruk penyangga beban sudah tiada. Dia mulai menggunakan kaki palsu dari uang kiriman ibunya. “Rasanya masih suka ngilu, belum bisa dipakai nekuk pergelangan kaki. Kalau dipakai salat sih biasa. Rukuk bisa, sujud juga bisa.”Baru sebulan dia belajar berjalan. Hampir tiap hari dia keluar blok untuk membiasakan diri berjalan kaki palsunya. Ke masjid, taman, kantin, kenalan-kenalan barunya, ke mana saja dia mau. Tapi tentu saja hanya sebatas di dalam penjara. Dia perlu waktu minimal 15 tahun lagi untuk bisa jalan-jalan di luar. [end]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah Pantau, Reporter dari Lapangan, Februari 2004&lt;br /&gt;Viewed from &lt;a href="http://www.aspopian.blogspot.com/"&gt;http://www.aspopian.blogspot.com/&lt;/a&gt;, September 19th 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25114427-114380056455888592?l=journeyhasbegin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journeyhasbegin.blogspot.com/feeds/114380056455888592/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25114427&amp;postID=114380056455888592' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25114427/posts/default/114380056455888592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25114427/posts/default/114380056455888592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journeyhasbegin.blogspot.com/2006/03/taufik-bin-abdul-halim_31.html' title='Taufik bin Abdul Halim'/><author><name>TAUFIK  ANDRIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09308518494811761621</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25114427.post-114379629592201223</id><published>2006-03-31T16:09:00.000+07:00</published><updated>2006-03-31T16:11:36.016+07:00</updated><title type='text'>Jurnalis Dalam Kepungan Nilai-Nilai</title><content type='html'>Jurnalis dalam Kepungan Nilai-nilai&lt;br /&gt;Oleh Taufik Andrie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelombang Tsunami di Aceh dan sebagian Sumatra Utara pada 26Desember 2004 lalu telah surut jauh-jauh hari. Evakuasi hampir usai.Penanganan pengungsi tengah menuju titik keteraturan yang makinrapih. Demikian juga proses recovery, baik psikologis maupunfisiologis, yang naga-naganya mulai menemukan format yang tepat.Tinggal fase rekonstruksi yang pasti bakal menguras biaya dantenaga. Sepintas tak ada lagi yang perlu dikuatirkan.Namun kisah tentang Aceh belum habis. Hari-hari belakangan ini masihtersisa perdebatan ihwal foto jurnalistik karya Bedu Saini, wartawanharian Serambi Indonesia di Banda Aceh. Perdebatan bernuansa pro-kontra yang akan membuat kita takjub sekaligus mengelus dada.Profesionalisme vs humanismeSyahdan, pada 26 Desember yang nahas itu Bedu Saini tengah diombang-ambing dalam dilema. Dua keputusan penting menantinya, tepat saatarus deras Tsunami menerjang. Mulanya ia mendengar riuh rendahkerumunan orang-orang yang berteriak histeris di kawasan SimpangLima Banda Aceh. Naluri jurnalistiknya bekerja. Dengan sigap BeduSaini memanggul kamera dan menghidupkan motor. Air bah memang belummeluber sampai di lingkungan rumahnya. Selesai memotret ia baruteringat anak istrinya. Sayang ia terlambat. Dua anaknya tak mampumenahan laju Tsunami.Pilihan yang dihadapi Bedu Saini memang bersifat diametral; menolongatau memotret. Sebagai ayah, ia harus menolong keluarganya yangtengah berjuang melawan derasnya pusaran air. Sedang sebagaiwartawan, ia harus memotret, untuk mengabarkan pada dunia betapaganasnya gelombang Tsunami yang diakibatkan gempa yang berpusat diperut laut itu. Posisi Bedu Saini yang dilematis ini dikategorikanTriyono Lukmantoro dalam tindak profesional jurnalis yang takhumanis (Suara Merdeka, 4 Februari 2005). Predikat yang mungkin akanjadi beban bagi Bedu Saini hingga sisa usianya. Meski dengan arif,Lukmantoro mencoba menawarkan jalan tengah melalui konsep primafacie (William David Ross), atau semacam kewajiban bertingkat yangberurutan selaras dengan prioritas.Jika dirumuskan dalam ranah praksis maka hendaknya Bedu Sainimenolong anaknya dulu baru memotret. Namun apa lacur, Bedu Sainimemilih memotret. Karya foto jurnalistiknya dipuji orang banyak,sedang sikapnya sebagai ayah dicerca banyak kalangan. Akibatnyajelas, stigma sebagai "wartawan profesional yang tak humanis"melekat pada dirinya.Lantas, seperti apa baiknya memeriksa kasus ini dalam kacamata etikajurnalisme. Ada dua hal yang, lagi-lagi, mengemuka saat kitamemperdebatkan dua diktum klasik dalam fotografi jurnalistik;menolong dulu atau memotret dulu. Mana yang harus didahulukan?Rumusan pertama menyatakan, bahwa sebelum jadi wartawan, Bedu Sainiadalah manusia. Meminjam Sirikit Syah dalam "Wartawan: Menolong atauMemotret?" (Pantau, Maret 2002, hal 52), maka seyogiyanya Bedu Sainimenganut kredo be a good man, than a good journalist. Sebab padadasarnya Bedu Saini ditakdirkan untuk jadi manusia dulu barusetelahnya berpredikat sebagai wartawan. Bahasan ini tentumengedepankan kaidah humanisme universal diatas segalanya.Rumusan kedua adalah rumusan yang mengedepankan ruh dan identitaskewartawanan diatas segenap predikat sosial, agama, etnis,kewarganegaraan maupun afiliasi politik. Bedu Saini memang seorangayah, tapi dengan kamera digenggaman, ia adalah seorang wartawan. Iamemang kehilangan kedua buah hati, yang sudah pasti sangatdicintainya. Tapi ia tak kehilangan kewajiban untuk memberikangambaran kepada umat manusia, bahwa Tsunami begitu ganas, tragedikdan patut diwaspadai di waktu-waktu mendatang.Laku profesionalisme yang dijalaninya secara argumentatif jugamenunjukkan semangat pengabdian pada publik yang lebih luas. Hakpublik atas informasi pula yang, saya kira, membuat Bedu Saini relabersusah-susah memotret. Bahkan terkesan mengabaikan keluarganyayang semula ia kira masih dalam kategori aman.Perdebatan klasikPerang batin yang klasik ini kerap dialami para wartawan yangbersinggungan dengan isu-isu perang dan konflik kemanusiaan. Sertatentu saja bencana. Masih ingat kisah Kevin Carter? Ia pemenanghadiah Pulitzer pada 1994 untuk fotonya ihwal gadis kecil di Sudanyang meringkuk kelaparan, dalam perjalanan menuju pusat bantuanpangan, dengan burung nazar yang siap mematuk dibelakang si gadiskecil.Foto Carter ini tentu memenuhi pelbagai kriteria yang ditentukanjuri. Setidaknya kriteria yang menggambarkan kekejaman perang dandishumanitas wilayah konflik.Karya ini dimuat di suratkabar New York Times. Entah kenapa, taklama setelah menerima Pulitzer, Carter bunuh diri dengan menghisapgas beracun. Sebagian kalangan menganggap Carter mengalami frustasiyang hebat akibat tuduhan yang menggangap Carter tak menolong gadiskecil dalam fotonya yang mashyur itu. Sebagian kawan yang lainmenganggap Carter memang sering mengalami masa sulit dan acap takbisa menyelesaikan permasalahannya sendiri.Hal yang sama pernah dialami James Nacthwey, fotografer perang yangterkenal dan tergabung dalam biro foto Seven, yang berkedudukan diParis. Paruh 1999, di kawasan Ketapang Jakarta Pusat terjadikerusuhan rasial. Nachtwey berada tepat ditengah-tengahnya saatmendengar kerumunan orang berteriak marah dan mengejar seorangpemuda (kebetulan dari etnis Ambon) yang tengah kepayahan danberdarah-darah. Mereka dari komunitas Betawi dan sebagian laskar FPI(Front Pembela Islam).Nacthwey merasa sedih tak bisa menolong. Sebab dia hampir takmungkin mengontrol emosi orang banyak yang telah mencapai titikdidihnya yang paling sempurna."Saya hanya punya beberapa detik untuk menolong atau memotret, sayatak bisa melakukan keduanya sekaligus. Akhirnya saya memilih untukmemotret, " demikian Nacthwey.Nacthwey mungkin salah sebagai manusia. Tapi jika apa yangdilakukannya dengan memotret bisa merubah keadaan, maka pilihan itutentu jauh lebih baik ketimbang upaya menolong yang bisa jadi hanyaberbuah niskala. Si pemuda memang benar-benar disembelih. Tapi hasiljepretan Nacthwey, paling tidak bisa membuat kawan-kawannya yanglain, yang –masih- berurusan dengan komunitas warga yang berang,bisa diselamatkan hukum.Harmoni antara etos dan humanitas Agaknya rumusan diskusi Kevin Carter dengan fotografer lainyang tergabung dalam The Bang Bang Club, suatu organisasi fotograferyang tengah meliput di wilayah konflik paska pembubaran pemerintahanApartheid di Afrika Selatan, patut dicontoh. Dalam salah satu kesepakatan disebutkan, bahwa jika merekabertemu dengan orang yang terluka, maka mereka punya 60 detik untukmemotret dan setelah itu baru menolong. Ini memang bukan ukuranmatematis, tapi ini bisa jadi acuan untuk memberi garis batas kapanharus memotret dan kapan harus menolong. Bagaimanapun, setelahmemotret jurnalis pasti akan menolong. Saya kira, nurani kemanusiaanjurnalis tak akan mudah tergadai hanya dengan melewatkan satu menitmemotret. Apalagi jika berhadapan dengan situasi krisis macam perangmaupun bencana. Saya kira, apa yang dilakukan Bedu Saini merupakan contohnyata laku jurnalis yang terhormat. Ia tak mengorbankan siapa-siapa.Tak juga humanisme. Ia memang harus memotret, karena keadaanmengharuskannya memotret. Beda soal jika misalnya air sudah menyerbulingkungan rumah tinggalnya dan ia memilih untuk berlarian sana-sini, guna mengambil sudut yang bagus untuk memotret.Sebab, meminjam diskusi Carter dalam The Bang Bang Club: SnapshotsFrom a Hidden War, jika hanya pewarta foto yang bisa menyelamatkanorang (yang terluka atau pantas ditolong) maka ia harusmenjadikannya prioritas. Pada titik inilah persinggungan antara etosfotografi jurnalistik dengan prima facie menemukan bentuknya yangideal. Menjadi jurnalis memang tak mudah. Tiap tindakan dankeputusannya mengandung segenap konsukensi. Kalau tak dipuji tentudikritik. Jika jurnalis menerima keduanya, maka pasti ada hal besaryang dipertimbangkan dan membuat publik memberikan penilaian ganda.Mengambil negasi dari kredo Sirikit Syah, "Everyone can be a goodman, but to be a good journalist it's a different matter."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taufik Andrie, wartawan freelance, tinggal di Purwokerto.&lt;br /&gt;Direktur Learning Institute, Lembaga Kajian Politik danKebudayaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25114427-114379629592201223?l=journeyhasbegin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journeyhasbegin.blogspot.com/feeds/114379629592201223/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25114427&amp;postID=114379629592201223' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25114427/posts/default/114379629592201223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25114427/posts/default/114379629592201223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journeyhasbegin.blogspot.com/2006/03/jurnalis-dalam-kepungan-nilai-nilai_31.html' title='Jurnalis Dalam Kepungan Nilai-Nilai'/><author><name>TAUFIK  ANDRIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09308518494811761621</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25114427.post-114379431941953108</id><published>2006-03-31T15:32:00.000+07:00</published><updated>2006-03-31T15:38:39.423+07:00</updated><title type='text'>Pada Siapa Jurnalisme Berpihak</title><content type='html'>Friday, March 31, 2006&lt;br /&gt;&lt;a name="114379386181057636"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada Siapa Jurnalisme Berpihak&lt;br /&gt;(Tanggapan untuk Triyono Lukmantoro)&lt;br /&gt;Oleh Taufik Andrie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah ingar-bingar politik dewasa ini, seperti biasa, jurnalismekembali bersembunyi dibalik himpitan gosip dan intrik. Tak jauh bedaketika jurnalisme, terutama pada masa prareformasi, kembali menelankredonya sendiri; ihwal pada siapa ia berpihak. Pada visi mulia,yakni melayani warga, atau menuruti kepentingan kekuasaan.Gegap gempita pemilu telah usai, tarik menarik kepentingan politikmulai kendur, dan sudah saatnya Indonesia menata diri. Pada titikinilah jurnalisme kembali dituntut untuk menjaga gawang kealpaan.Baik yang dilakukan pengelola kekuasaan, masyarakat maupun dirinyasendiri.Jurnalisme hendaknya bisa lebih cermat. Kecermatan ini pentinguntuk menghadapi terpaan isu-isu global, telikungan dari kekuasaanpolitik maupun kepentingan struktur modal yang memayunginya yangnyaris tak bisa dilawan. Sebab, itu semua pelan namun pasti bakalmengikis performa jurnalisme yang hakiki. Jurnalisme yang bersifatmelayani.Meminjam ungkapan Goenawan Mohamad, redaktur senior majalah Tempo,pada intinya menulis atau menyampaikan berita adalah sebuah lakumoral. Sebuah itikad untuk menjaga integritas kebenaran sampai titikyang paling ujung. Idiom ini merupakan kaidah dasar (pertama)jurnalisme; berpihak pada kebenaran.Lebih jauh, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam bukunya, TheElement of Journalism (2003), menterjemahkan laku ini dalam sembilankaidah wajib. Kaidah ini disarikan dari hasil diskusi mendalam danpenelitian cermat yang melibatkan 300 wartawan sebagai respondendalam 103,5 jam wawancara.Riset ini dibikin oleh sebuah grup yang menamakan diri Comitte ofConcerned Journalist yang berkedudukan di Harvard Universty --Amerika. Sebuah komite yang terdiri dari redaktur, wartawan, danpraktisi jurnalisme lainnya seperti peneliti dan pengajar, yangmenubuatkan diri untuk menjaga integritas jurnalisme.Secara berturut-turut, kesembilan kaidah wajib ini antara lain;satu, kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran. Dua,loyalitas pertama jurnalisme kepada warga. Tiga, intisari jurnalismeadalah disiplin dalam verifikasi. Empat, independensi terhadapsumber berita. Lima, jurnalisme berlaku sebagai pemantau kekuasaan.Enam, ia juga harus menyediakan forum publik, untuk melakukan kritikmaupun dukungan dari warga masyarakat. Tujuh, ia hendaknya berupayamembuat hal yang penting jadi menarik dan relevan bagi kehidupanorang banyak. Delapan, ia harus menjaga agar berita bisakomprehensif dan proporsional. Dan terakhir, para jurnalis harusmengikuti nurani dalam bekerja.Saya tak hendak mengambil kesembilan kaidah tersebut sebagai bahasanutama. Hanya dua hal yang agaknya lebih urgent untuk menjawabseperti apa performa jurnalisme yang ada dan berkembang diIndonesia.Pertama, jurnalisme pada hakikatnya mendewakan kebenaran. Ia ada,hidup dan bekerja untuk mencari, mengolah dan mewartakan kebenaran.Tentu dengan teknik dan metode yang teruji. Berlandaskan ini makajurnalis hendaknya hanya mewartakan kebenaran. Dan kebenaran hanyabisa didapati dari data dan fakta.Sebaliknya, jurnalis yang terbiasa menulis berita tanpa data yangakurat dan fakta yang sahih, dan seringkali hanya bermodal isu dandesas-desus maka tak layak ia disebut tengah memperjuangkankebenaran. Apalagi jika penjelajahan lapangan jurnalis yangbersangkutan kurang memadai untuk bisa disebut proses reportase yangbenar. Tak heran jika koran kuning yang lazim menyajikan beritakriminal dan gambar cabul menempati urutan terbawah dalam monitoringdan evaluasi pemberitaan oleh Dewan Pers per 2004 lalu (Wawasan, 17-19/01/05).Diktum kedua, loyalitas pertama jurnalisme adalah tanggungjawabnyayang besar terhadap warga. Masyarakat butuh informasi, dan kantormedia serta para wartawan adalah penyedianya. Informasi ihwalkeseharian maupun hal-hal yang bertalian dengan hidup bermasyarakat.Dalam pada itu, menanggapi tulisan Triyono Lukmantoro (Wawasan,25/01/05), yang menyatakan bahwa dogma jurnalisme pada dasarnya takbisa netral, menurut saya irrelevan. Pertama, netralitas atau yangoleh banyak kalangan acap disimplifikasikan jadi obyektif hanyalahsebuah metode. Ia tak dengan sendirinya jadi tujuan pemberitaan. Iasebatas piranti untuk merujuk siapa berkata apa, bagaimana iamengatakannya dan dalam konteks apa ia mengatakan. Pers seharusnyaimparsial terhadap kepentingan.Hal ini berlaku umum. Terkecuali jika, secara linguis, netral disinisemata-mata dipahami sebagai posisi politik. Meski term inisebetulnya tak dikenal dalam khasanah jurnalisme. Tak ada posisipolitik dalam jurnalisme. Yang ada hanya penyampaian peristiwadengan benar untuk membantu warga dalam mengambil keputusan untukdirinya sendiri dalam menghadapi orang lain di komunitas tempat iatinggal dan mengambil sikap terhadap aturan di tempat ia bernaung.Kedua, pemberian anugerah "Person of the Year" atau apapun terhadapsosok yang memberi manfaat pada warga tak selalu berbanding lurusdengan netralitas jurnalisme. Justru dengan itu, warga akan tahubetapa pers dan atau jurnalisme bisa menaruh respek terhadapperbuatan positif seseorang. Dan jika pemberian penghargaan macamini, seperti yang dilakukan Wawasan dan Tempo, dianggapkeberpihakan, bukankah justru tak masalah. Sebab, dengan memihakpada nilai-nilai positif yang notabene adalah perbuatan benar, makakedua media diatas justru secara de-facto sudah menjalankan kaidahpertama jurnalisme; mengabdi pada kebenaran.Namun Lukmantoro ada benarnya. Pemberian anugerah macam ini bukanlahsebuah keharusan. Meski, ketakutan yang membayangi argumentasinya,saya kira terlalu berlebihan. Jurnalisme atau pers memang dituntutselalu waspada terhadap pelbagai motif pemberitaan. Terutama,merujuk pada ketakutan Lukmantoro, jika jurnalisme hendakdimanfaatkan oleh tokoh yang mendapat penghargaan yang notabeneadalah sumber berita. Maka dari itu verifikasi jadi penting. Ia yangakan memilah dan memilih mana berita mana propaganda. Ia juga yangakan menyisir dan menyaring mana peristiwa mana rekayasa. Denganderajad verifikasi yang tinggi (dan biasanya berlapis), saya kiratak mudah bagi siapapun untuk mempengaruhi pers dan atau jurnalisme.Lain soal jika sosok dimaksud mempunyai tangan-tangan kekuasaan yangpanjang dan acap mampu menembus dinding birokrasi perusahaan media.Seperti galibnya, dimana publik luas sudah mahfum, pers bisa garangpada siapa saja, tapi tidak pada managemennya sendiri. Sebab,meminjam Max King, redaktur Philadelphia Inquirer, "Kita(jurnalisme) tergerus oleh tekanan bisnis dan perhitungan untungrugi." Celah inilah yang acap dipakai pemiliki kekuasaan untukmenekan wartawan dan media (lebih tepatnya bilik redaksi) tempatnyabekerja.Selanjutnya, masih merujuk pada ketakutan Lukmantoro, hilangnyakritisisme pers pada satu atau lebih tokoh yang yang telahdinobatkan sebagai, umpamanya, "Person of the Year." Jika kesembilankaidah diatas dipraktikkan betul, maka ketakutan retoris ini bolehjadi gampang diatasi. Kaidah keempat dan kelima sudah cukup gamblangmenjawabnya. Jika sosok atau tokoh ini sumber berita, kategoripejabat publik misalnya, maka pers harus independen terhadapnya. Taksemata-mata berjarak, tapi juga peran wacth dog yang tak bolehlekang.Yang jadi soal adalah, apakah kriterium pemilihan tokoh yangdisangsikan Lukmantoro pada dua media diatas sudah benar? Jikabelum, maka argumentasi penokohan ini semata-mata didasarkan padarumusan kepentingan ekonomi-finansial dan politik-moral, saya kiraada benarnya.Secara konseptual, paparan diatas memang masih dalam tataran ideal.Di ranah praksis, perilaku media-media di Indonesia masih jauh darisempurna. Tapi seiring waktu dan dinamika jurnalisme yang spartan, kesembilan kaidah ini hendaknya jadi pedoman nilai tiap-tiap pers dan insan jurnalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taufik Andrie, Wartawan freelance, pernah bekerja untuk The Yomiuri Shimbun.&lt;br /&gt;Direktur Learning Institute, lembaga kajian politik dan kebudayaan di Purwokerto.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25114427-114379431941953108?l=journeyhasbegin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://journeyhasbegin.blogspot.com/feeds/114379431941953108/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25114427&amp;postID=114379431941953108' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25114427/posts/default/114379431941953108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25114427/posts/default/114379431941953108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://journeyhasbegin.blogspot.com/2006/03/pada-siapa-jurnalisme-berpihak.html' title='Pada Siapa Jurnalisme Berpihak'/><author><name>TAUFIK  ANDRIE</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09308518494811761621</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
